Jumat, 17 Juli 2020

Laporan Warga Bondowoso Yang Resah Karena Pejabat Teras Bondowoso Bawa Orang Yang Disuruh Ngaku Petugas Dari KemenkoPolhukam Untuk Intervensi Hukum

Laporan Warga Bondowoso Yang Resah Karena Pejabat Teras Bondowoso Bawa Orang Yang Disuruh Ngaku Petugas Dari KemenkoPolhukam Untuk Intervensi Hukum

Inline image

Kepada Yth.

Menteri Koordinator Polhukam

Di Jakarta

Dengan Hormat

Bersama ini disampaikan informasi adanya peristiwa, dimana ada seseorang yang mengaku sebagai petugas dari KemenkoPolhukam dengan dihantar oleh Sekretaris Daerah (Sekda) kabupaten Bondowoso mendatangi pejabat2 di kabupaten Bondowoso. (berita terlampir)

Inti dari kedatangan oknum tadi, adalah meminta agar kasus yang menjadikan Sekretaris Daerah Bondowoso sebagai tersangka dihentikan prosesnya.

Untung saja komandan Kodim Bondowoso dengan sigap mendatangi lokasi dan sempat membawa oknum tersebut ke kantor Kodim. Sehingga terbongkarlah identitas oknum petugas Kemenkopolhukam yang ternyata palsu tersebut

Hanya sayangnya, oknum tersebut tidak diamankan sementara waktu untuk dimintai keterangan lebih lanjut, tapi langsung dilepas (apa memang benar orang kuat?),

Untuk itu, kami mohon agar hal ini diusut tuntas, dan agar diketahui siapa otak dari upaya mencampuri masalah hukum dengan intimidasi pejabat dari Kemenkopulhukam yang ternyata palsu tersebut.

Karena mengaku petugas, tapi palsu itu merupakan tindak pidana, meskipun upaya petugas palsu untuk mengintimidasi masyarakat  itu gagal karena ketahuan.

Demikian laporan kami, atas perhatian bapak kami ucapkan banyak terima kasih

Bondowoso, 6 Juli 2020

Paguyuban Masyarakat Bondowoso

(H. Fatah)

Tembusan:

1.    Gubernur Jatim

2.    Kapolri

3.    Kapolda Jatim

4.    Pangdam Jatim

5.    Bupati Bondowoso

6.    dll


Lampiran:
Zona Jatim
Ngaku – Ngaku Pejabat Menkopolhukam, Ternyata Paranormal

Bondowoso – Kabar mengejutkan para pejabat Pemkab Bondowoso, informasi yang dihimpun di lapangan, Kepala Dinas Perpustakaan, Alun Taufana Sulistiyadi didatangi oleh seseorang yang mengaku sebagai staf Kementerian Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Republik Indonesia (Kemenkopolhukam RI), Bidang Perselisihan, orang tersebut bernama Maryadi, Kamis, (2/7).

Kedatangan Maryadi tersebut didampingi oknum Pejabat teras Pemkab Bondowoso yang telah resmi ditetapkan tersangka oleh Polres Bondowoso dalam kasus ancaman pembunuhan. Tujuan inti Maryadi meminta agar kasus laporan pengancaman yang saat ini sudah bergulir di Polres Bondowoso agar dicabut.

Bahkan, kata sumber yang tidak bersedia dipublikasikan, Maryadi mengaku asisten dari Brigjen Erin Sahara. Sebelum Maryadi berangkat ke Bondowoso, dia juga mengaku sudah berkoordinasi dengan Intel Polda Jatim bernama Toni, yang tujuannya agar Alun Taufana Sulistyadi mencabut laporannya di Polres Bondowoso.

Saat sumber berita konfirmasi via telepon seluler milik Maryadi kepada Toni, yang bersangkutan memberikan klarifikasi. "Saya (Toni) bukan Intel Polda Jatim, tetapi Intel Brimob Jatim. Dan saya sudah mengingatkan Mbah Mar (sebutan Toni menanggil Maryadi), agar hati-hati dan tidak macam-macam di Bondowoso. Saya tidak ada maksud untuk intervensi hukum, semua terserah pelapor. Kok sekarang jadi rame seperti ini, lalu saya di suruh datang ke Bondowoso juga untuk apa", kata Toni yang merasa bersalah namanya dibawa-bawa oleh Mbah Mar.

Tidak hanya itu, Maryadi juga mengatakan, apabila kasus ini diteruskan maka Kapolres akan ditarik oleh Polda Jatim. Dan jika kasus ancaman pembunuhan ini tetap berlanjut. Akibatnya, kasus ini juga akan berimbas kepada Bupati, bahkan klaim Maryadi, Presiden Jokowi akan marah kalau sampai persoalan ini tidak selesai.

Beruntung saja Dandim 0822 Bondowoso, Letkol Inf. Jadi, SIP., langsung bertindak ketika mendengar informasi tersebut. Kemudian, Maryadi langsung dibawa ke Kodim untuk dimintai keterangan.

Komandan Kodim 0822 Bondowoso, Letkol Inf. Jadi, SIP., membenarkan, jika pihaknya sedang kedatangan tamu yang katanya mengaku pejabat dari Kementerian Polhukam.

Namun, ata Dandim, setelah ditanya Maryadi tidak mengakui bahwa dirinya berasal dari Kemenko Polhukam RI. Namun dia datang ke Bondowoso secara pribadi.

"Karena saya bertanggungjawab diwilayah, maka saya harus tahu itu, tapi sejauh ini tidak ada yang dirugikan," kata Dandim Letkol Inf Jadi.

Sementara Ketua Umum LSM Teropong, H. Nawiryanto Winarno, menyayangkan adanya upaya intervensi hukum oleh oknum yang mengaku-ngaku dari Kemenkopolhukam. Selain itu juga membawa-bawa Presiden RI yang akan marah jika kasus ini berlanjut, karena dianggap Bupati tidak dapat menyelesaikan masalah pejabatnya. "Saya sangat menyayangkan kejadian ini, semua pasti sudah diskenario oleh seseorang, sampai Maryadi alias Mbah Mar mau mengaku sebagai orang dari Kemenkopolhukam. Memang dari kejadian ini tidak ada orang yang dirugikan, tetapi langkah seorang tersangka mendatangkan orang dan mengaku-ngaku dari lembaga pusat tersangka untuk mengintimidasi dan menakut-nakuti pelapor, dapat dikatagorikan tindak pidana, walaupun belum terjadi apa-apa," kata H Nawiryanto.

Minggu, 05 Juli 2020

PSS Sesalkan sikap DPP GMNI Yang Sebut Aksi Sujud Risma Sebagai Drama Pencitraan

PSS Sesalkan sikap DPP GMNI Yang Sebut Aksi Sujud Risma Sebagai Drama Pencitraan


PSS - Paguyuban Supporter Surabaya menyayangkan sikap Sekjen DPP GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia) Ageng Dendy Setiawan yang menuduh Walikota Surabaya Tri Rismaharini melakukan pencitraan dengan melakukan drama saat melakukan sujud pada tim dokter yang menangani virus corona di balai kota Surabaya (29/6/2020) lalu.

"Sayang sekali, mengaku sebagai pimpinan tingkat nasional sebuah organisasi mahasiswa mengeluarkan pernyataan yang demikian. Apalagi beberapa waktu sebelumnya mengeluarkan pernyataan mendukung seseorang sebagai calon walikota Surabaya", kata Wasis Ismudiarto koordinator PSS.

"Ini bisa menimbulkan kesan bahwa mereka mengkritik bu Risma adalah dalam rangka untuk mempromosikan seseorang yang mereka dukung sebagai calon walikota Surabaya", ujarnya.

"Tentu akan tampak kurang elok, kok,pimpinan tingkat nasional sebuah organisasi mahasiswa terlihat begitu menggebu-gebu hanya berkonsentrasi mengurusi masalah pencalonan seseorang di sebuah kotamadya", tuturnya.

Terkait kemudian pimpinan nasional organisasi mahasiswa itu membantah bahwa mereka tidak pernah mengkritik Risma dan tidak pernah mendukung seseorang menjadi calon walikota Surabaya, Wasis menyatakan bahwa rekam jejak tidak gampang untuk dihapus begitu saja.


"Mau membantah boleh boleh saja, tapi yang bersangkutan pernah membuat unggahan tentang risma dengan menambahkah berbagai ungkapan seperti, pencitraan atau memang wes (sudah) benar benar gak mampu dan seterusnya", jelas wasis sambil menunjukkan beberapa print out dari screenshoot pernyataan pimpinan nasional organisasi mahasiswa itu melalui akun media sosialnya.


Menurut Wasis, jika kemudian pimpinan nasional organisasi mahasiswa itu membantah dan menyatakan bahwa mereka tidak pernah mendukung ketua umum Pemuda Demokrat, Fandi Utomo sebagai calon walikota Surabaya, Tentunya akan bisa menimbulkan kesan bahwa pimpinan tingkat nasional sebuah organisasi mahasiswa kok tidak konsisten atau plin plan.

"Pernyataan mereka mendukung Fandi Utomo sebagai calon walikota surabaya itu diungkapkan pada belasan media massa, bahkan diantaranya ada beberapa media mainstream", terangnya sambil menunjukkan print out pernyataan pimpinan nasional GMNI pada belasan media massa tersebut.


NB:
inilah pernyataan pimpinan nasional GMNI mendukung Fandi Utomo sebagai walikota Surabaya

GMNI: Fandi Utomo Tokoh Yang Cocok Untuk Pimpin Surabaya
Ketum GMNI: Fandi Utomo Sosok Visioner

Ketum GMNI: Fandi Utomo Sosok Visioner Bagi Surabaya

Ketum GMNI: FU Cocok Untuk Surabaya

Ketum GMNI: FU memiliki sosok Visioner Untuk Surabaya

Ketum GMNI:  Fandi Utomo Cocok Untuk Walikota Surabaya

Ketua Umum GMNI Sebut Fandi Utomo Solusi Untuk Surabaya

Ketum GMNI: Fandi Utomo Sosok Visioner

Ketum GMNI: Fandi Utomo Sosok Visioner Untuk Surabaya

Ketum GMNI: Optimistis Fandi Utomo Sosok Visioner Untuk Surabaya

Ketum GMNI: Fandi Utomo Cocok Menjadi Walikota Surabaya


PSS Sesalkan sikap DPP GMNI Yang Sebut Aksi Sujud Risma Sebagai Drama Pencitraan

PSS Sesalkan sikap DPP GMNI Yang Sebut Aksi Sujud Risma Sebagai Drama Pencitraan


PSS - Paguyuban Supporter Surabaya menyayangkan sikap Sekjen DPP GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia) Ageng Dendy Setiawan yang menuduh Walikota Surabaya Tri Rismaharini melakukan pencitraan dengan melakukan drama saat melakukan sujud pada tim dokter yang menangani virus corona di balai kota Surabaya (29/6/2020) lalu.

"Sayang sekali, mengaku sebagai pimpinan tingkat nasional sebuah organisasi mahasiswa mengeluarkan pernyataan yang demikian. Apalagi beberapa waktu sebelumnya mengeluarkan pernyataan mendukung seseorang sebagai calon walikota Surabaya", kata Wasis Ismudiarto koordinator PSS.

"Ini bisa menimbulkan kesan bahwa mereka mengkritik bu Risma adalah dalam rangka untuk mempromosikan seseorang yang mereka dukung sebagai calon walikota Surabaya", ujarnya.

"Tentu akan tampak kurang elok, kok,pimpinan tingkat nasional sebuah organisasi mahasiswa terlihat begitu menggebu-gebu hanya berkonsentrasi mengurusi masalah pencalonan seseorang di sebuah kotamadya", tuturnya.

Terkait kemudian pimpinan nasional organisasi mahasiswa itu membantah bahwa mereka tidak pernah mengkritik Risma dan tidak pernah mendukung seseorang menjadi calon walikota Surabaya, Wasis menyatakan bahwa rekam jejak tidak gampang untuk dihapus begitu saja.


"Mau membantah boleh boleh saja, tapi yang bersangkutan pernah membuat unggahan tentang risma dengan menambahkah berbagai ungkapan seperti, pencitraan atau memang wes (sudah) benar benar gak mampu dan seterusnya", jelas wasis sambil menunjukkan beberapa print out dari screenshoot pernyataan pimpinan nasional organisasi mahasiswa itu melalui akun media sosialnya.


Menurut Wasis, jika kemudian pimpinan nasional organisasi mahasiswa itu membantah dan menyatakan bahwa mereka tidak pernah mendukung ketua umum Pemuda Demokrat, Fandi Utomo sebagai calon walikota Surabaya, Tentunya akan bisa menimbulkan kesan bahwa pimpinan tingkat nasional sebuah organisasi mahasiswa kok tidak konsisten atau plin plan.

"Pernyataan mereka mendukung seseorang sebagai calon walikota surabaya itu diungkapkan pada belasan media massa, bahkan diantaranya ada beberapa media mainstream", terangnya sambil menunjukkan print out pernyataan pimpinan nasional GMNI pada belasan media massa tersebut.


NB:
inilah pernyataan pimpinan nasional GMNI mendukung Fandi Utomo sebagai walikota Surabaya

GMNI: Fandi Utomo Tokoh Yang Cocok Untuk Pimpin Surabaya
Ketum GMNI: Fandi Utomo Sosok Visioner

Ketum GMNI: Fandi Utomo Sosok Visioner Bagi Surabaya

Ketum GMNI: FU Cocok Untuk Surabaya

Ketum GMNI: FU memiliki sosok Visioner Untuk Surabaya

Ketum GMNI:  Fandi Utomo Cocok Untuk Walikota Surabaya

Ketua Umum GMNI Sebut Fandi Utomo Solusi Untuk Surabaya

Ketum GMNI: Fandi Utomo Sosok Visioner

Ketum GMNI: Fandi Utomo Sosok Visioner Untuk Surabaya

Ketum GMNI: Optimistis Fandi Utomo Sosok Visioner Untuk Surabaya

Ketum GMNI: Fandi Utomo Cocok Menjadi Walikota Surabaya

PSS Sesalkan sikap DPP GMNI Yang Sebut Aksi Sujud Risma Sebagai Drama Pencitraan

PSS Sesalkan sikap DPP GMNI Yang Sebut Aksi Sujud Risma Sebagai Drama Pencitraan


PSS - Paguyuban Supporter Surabaya menyayangkan sikap Sekjen DPP GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia) Ageng Dendy Setiawan yang menuduh Walikota Surabaya Tri Rismaharini melakukan pencitraan dengan melakukan drama saat melakukan sujud pada tim dokter yang menangani virus corona di balai kota Surabaya (29/6/2020) lalu.

"Sayang sekali, mengaku sebagai pimpinan tingkat nasional sebuah organisasi mahasiswa mengeluarkan pernyataan yang demikian. Apalagi beberapa waktu sebelumnya mengeluarkan pernyataan mendukung seseorang sebagai calon walikota Surabaya", kata Wasis Ismudiarto koordinator PSS.

"Ini bisa menimbulkan kesan bahwa mereka mengkritik bu Risma adalah dalam rangka untuk mempromosikan seseorang yang mereka dukung sebagai calon walikota Surabaya", ujarnya.

"Tentu akan tampak kurang elok, kok,pimpinan tingkat nasional sebuah organisasi mahasiswa terlihat begitu menggebu-gebu hanya berkonsentrasi mengurusi masalah pencalonan seseorang di sebuah kotamadya", tuturnya.

Terkait kemudian pimpinan nasional organisasi mahasiswa itu membantah bahwa mereka tidak pernah mengkritik Risma dan tidak pernah mendukung seseorang menjadi calon walikota Surabaya, Wasis menyatakan bahwa rekam jejak tidak gampang untuk dihapus begitu saja.

Inline image


Inline image

Inline image


"Mau membantah boleh boleh saja, tapi yang bersangkutan pernah membuat unggahan tentang risma dengan menambahkah berbagai ungkapan seperti, pencitraan atau memang wes (sudah) benar benar gak mampu dan seterusnya", jelas wasis sambil menunjukkan beberapa print out dari screenshoot pernyataan pimpinan nasional organisasi mahasiswa itu melalui akun media sosialnya.

Menurut Wasis, jika kemudian pimpinan nasional organisasi mahasiswa itu membantah dan menyatakan bahwa mereka tidak pernah mendukung ketua umum Pemuda Demokrat, Fandi Utomo sebagai calon walikota Surabaya, Tentunya akan bisa menimbulkan kesan bahwa pimpinan tingkat nasional sebuah organisasi mahasiswa kok tidak konsisten atau plin plan.

"Pernyataan mereka mendukung seseorang sebagai calon walikota surabaya itu diungkapkan pada belasan media massa, bahkan diantaranya ada beberapa media mainstream", terangnya sambil menunjukkan print out pernyataan pimpinan nasional GMNI pada belasan media massa tersebut.


NB:
inilah pernyataan pimpinan nasional GMNI mendukung Fandi Utomo sebagai walikota Surabaya

GMNI: Fandi Utomo Tokoh Yang Cocok Untuk Pimpin Surabaya
Ketum GMNI: Fandi Utomo Sosok Visioner

Ketum GMNI: Fandi Utomo Sosok Visioner Bagi Surabaya

Ketum GMNI: FU Cocok Untuk Surabaya

Ketum GMNI: FU memiliki sosok Visioner Untuk Surabaya

Ketum GMNI:  Fandi Utomo Cocok Untuk Walikota Surabaya

Ketua Umum GMNI Sebut Fandi Utomo Solusi Untuk Surabaya

Ketum GMNI: Fandi Utomo Sosok Visioner

Ketum GMNI: Fandi Utomo Sosok Visioner Untuk Surabaya

Ketum GMNI: Optimistis Fandi Utomo Sosok Visioner Untuk Surabaya

Ketum GMNI: Fandi Utomo Cocok Menjadi Walikota Surabaya

PSS Sesalkan sikap DPP GMNI Yang Sebut Aksi Sujud Risma Sebagai Drama Pencitraan

PSS Sesalkan sikap DPP GMNI Yang Sebut Aksi Sujud Risma Sebagai Drama Pencitraan


PSS - Paguyuban Supporter Surabaya menyayangkan sikap Sekjen DPP GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia) Ageng Dendy Setiawan yang menuduh Walikota Surabaya Tri Rismaharini melakukan pencitraan dengan melakukan drama saat melakukan sujud pada tim dokter yang menangani virus corona di balai kota Surabaya (29/6/2020) lalu.

"Sayang sekali, mengaku sebagai pimpinan tingkat nasional sebuah organisasi mahasiswa mengeluarkan pernyataan yang demikian. Apalagi beberapa waktu sebelumnya mengeluarkan pernyataan mendukung seseorang sebagai calon walikota Surabaya", kata Wasis Ismudiarto koordinator PSS.

"Ini bisa menimbulkan kesan bahwa mereka mengkritik bu Risma adalah dalam rangka untuk mempromosikan seseorang yang mereka dukung sebagai calon walikota Surabaya", ujarnya.

"Tentu akan tampak kurang elok, kok,pimpinan tingkat nasional sebuah organisasi mahasiswa terlihat begitu menggebu-gebu hanya berkonsentrasi mengurusi masalah pencalonan seseorang di sebuah kotamadya", tuturnya.

Terkait kemudian pimpinan nasional organisasi mahasiswa itu membantah bahwa mereka tidak pernah mengkritik Risma dan tidak pernah mendukung seseorang menjadi calon walikota Surabaya, Wasis menyatakan bahwa rekam jejak tidak gampang untuk dihapus begitu saja.

Inline image

Inline image
Inline image

"Mau membantah boleh boleh saja, tapi yang bersangkutan pernah membuat unggahan tentang risma dengan menambahkah berbagai ungkapan seperti, pencitraan atau memang wes (sudah) benar benar gak mampu dan seterusnya", jelas wasis sambil menunjukkan beberapa print out dari screenshoot pernyataan pimpinan nasional organisasi mahasiswa itu melalui akun media sosialnya.

Menurut Wasis, jika kemudian pimpinan nasional organisasi mahasiswa itu membantah dan menyatakan bahwa mereka tidak pernah mendukung ketua umum Pemuda Demokrat, Fandi Utomo sebagai calon walikota Surabaya, Tentunya akan bisa menimbulkan kesan bahwa pimpinan tingkat nasional sebuah organisasi mahasiswa kok tidak konsisten atau plin plan.

"Pernyataan mereka mendukung seseorang sebagai calon walikota surabaya itu diungkapkan pada belasan media massa, bahkan diantaranya ada beberapa media mainstream", terangnya sambil menunjukkan print out pernyataan pimpinan nasional GMNI pada belasan media massa tersebut.


NB:
inilah pernyataan pimpinan nasional GMNI mendukung Fandi Utomo sebagai walikota Surabaya

GMNI: Fandi Utomo Tokoh Yang Cocok Untuk Pimpin Surabaya
Ketum GMNI: Fandi Utomo Sosok Visioner

Ketum GMNI: Fandi Utomo Sosok Visioner Bagi Surabaya

Ketum GMNI: FU Cocok Untuk Surabaya

Ketum GMNI: FU memiliki sosok Visioner Untuk Surabaya

Ketum GMNI:  Fandi Utomo Cocok Untuk Walikota Surabaya

Ketua Umum GMNI Sebut Fandi Utomo Solusi Untuk Surabaya

Ketum GMNI: Fandi Utomo Sosok Visioner

Ketum GMNI: Fandi Utomo Sosok Visioner Untuk Surabaya

Ketum GMNI: Optimistis Fandi Utomo Sosok Visioner Untuk Surabaya

Ketum GMNI: Fandi Utomo Cocok Menjadi Walikota Surabaya

Sabtu, 04 Juli 2020

Heboh "Pejabat Kemenkopolhukam" Intimidasi Agar Kasus Yang Jadikan Sekda Bondowoso Sebagai Tersangka Dicabut dan Dihentikan Prosesnya

Heboh "Pejabat Kemenkopolhukam" Intimidasi Agar Kasus Yang Jadikan Sekda Bondowoso Sebagai Tersangka Dicabut dan Dihentikan Prosesnya

Jika Kasus Tidak Dihentikan Kapolres Akan Ditarik ke Polda dan Berimbas Pada Bupati Karena Presiden Jokowi Marah Besar Jika Kasus Ini Berlanjut

alt

Kedatangan oknum yang infonya merupakan pejabat penting dari Jakarta mengejutkan para pejabat di kabupaten Bondowoso.

Berdasar informasi yang dihimpun, Kepala Dinas Perpustakaan, Alun Taufana Sulistiyadi didatangi oleh seseorang yang mengaku sebagai staf Kementerian Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Republik Indonesia (Kemenkopolhukam RI), Bidang Perselisihan, pada Kamis, (2/7/2020). Orang tersebut bernama Maryadi

Kedatangan Maryadi tersebut didampingi oknum Pejabat teras Pemkab Bondowoso yang telah resmi ditetapkan tersangka oleh Polres Bondowoso dalam kasus ancaman pembunuhan.

Tujuan mereka mendatangi Kepala Dinas Perpustakaan adalah bahwa Maryadi meminta agar laporan kasus pengancaman yang sudah bergulir di Polres Bondowoso itu dicabut.

Sebagaimana diketahui, Polres Bondowoso telah menetapkan Sekretaris Daerah (Sekda) Bondowoso, Syaifullah, sebagai tersangka atas kasus pengancaman dengan pembunuhan terhadap Alun Taufana yang saat itu menjabat sebagai kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Bondowoso.

Bahkan, sebagaimana dilansir Teropong Timur, Maryadi mengaku asisten dari Brigjen Erin Sahara.

Dan sebelum Maryadi berangkat ke Bondowoso, dia juga mengaku sudah berkoordinasi dengan Intel Polda Jatim bernama Toni, yang tujuannya agar Alun Taufana Sulistyadi mencabut laporannya.

Saat sumber berita mengkonfirmasi via telepon seluler milik Maryadi kepada seseorang bernama Toni, yang bersangkutan memberikan klarifikasi.

"Saya (Toni) bukan Intel Polda Jatim, tetapi Intel Brimob Jatim. Dan saya sudah mengingatkan Maryadi, agar hati-hati dan tidak macam-macam di Bondowoso. Saya tidak ada maksud untuk intervensi hukum, semua terserah pelapor. Kok sekarang jadi rame seperti ini, lalu saya di suruh datang ke Bondowoso juga untuk apa", kata Toni yang merasa bersalah namanya dibawa-bawa oleh Maryadi.

Tidak hanya itu, Maryadi juga mengatakan, apabila kasus ini diteruskan maka Kapolres akan ditarik oleh Polda Jatim, dan jika kasus ancaman pembunuhan ini tetap berlanjut, akibatnya kasus ini juga akan berimbas kepada Bupati, bahkan kata Maryadi, Presiden Jokowi akan marah kalau sampai persoalan ini tidak selesai.

Beruntung saja Dandim 0822 Bondowoso, Letkol Inf. Jadi, SIP., langsung bertindak ketika mendengar informasi tersebut. Kemudian, Maryadi langsung dibawa ke Kodim untuk dimintai keterangan.

Merasa terpojok, Maryadi, meminta tolong kepada sumber berita untuk dibantu klarifikasi bahwa kedatangan atas nama pribadi dan meminta pertanggungjawaban oknum pejabat yang menjemput dan menyuruhnya datang ke Bondowoso untuk meminta Alun Taufana Sulistiyadi mencabut laporannya.

Komandan Kodim 0822 Bondowoso, Letkol Inf. Jadi, SIP., membenarkan, jika pihaknya sedang kedatangan tamu yang katanya mengaku pejabat dari Kementerian Polhukam.

Namun, Kata Dandim, setelah ditanya Maryadi tidak mengakui bahwa dirinya berasal dari Kemenko Polhukam RI, dia datang ke Bondowoso secara pribadi.

"Karena saya bertanggungjawab diwilayah, maka saya harus tahu itu, tapi sejauh ini belum ada yang dirugikan,"kata Dandim.

Ketua Umum LSM Teropong, H. Nawiryanto Winarno, menyayangkan adanya upaya intervensi hukum oleh oknum yang mengaku dari Kemenkopolhukam, juga membawa-bawa Presiden RI yang akan marah jika kasus ini berlanjut, karena dianggap Bupati tidak dapat menyelesaikan masalah pejabatnya.

"Saya sangat menyayangkan kejadian ini, semua pasti sudah diskenario oleh seseorang, sampai Maryadi mau mengaku sebagai orang dari Kemenkopolhukam", katanya.

"Memang dari kejadian ini belum ada orang yang dirugikan, tetapi langkah seorang tersangka, mendatangkan orang dan mengaku-ngaku dari lembaga penting di pemerintah pusat untuk mengintimidasi dan menakut-nakuti pelapor, dapat dikatagorikan tindak pidana, walaupun belum terjadi apa-apa", kata H. Nawiryanto.

Sementara Sekda Bondowoso, Syaifullah ketika dihubungi melalui HP/WA: 082330303191 belum ada respon