Rabu, 29 September 2021

Jika Matahari Mati, Apa Yang Terjadi Pada Bumi dan Manusia?

Jika Matahari Mati, Apa Yang Terjadi Pada Bumi dan Manusia?

Besok Gerhana Matahari Cincin, Bisa Dilihat dari Mana Saja? : Okezone  Nasional

Matahari selalu menyinari Bumi setiap hari hingga saat ini. Namun apa yang bakal terjadi jika Matahari mati dan berhenti menyinari Bumi?

Jika skenario itu terjadi, kemungkinan manusia di Bumi tidak akan mengetahuinya hingga sekitar 8,5 menit kemudian. Sebab tidak ada yang bergerak lebih cepat dari cahaya termasuk tarikan gravitasi, dan kita tidak menyadari ada sesuatu yang hilang.

Namun berikutnya Matahari akan tiba-tiba menghilang dan Bumi akan diselimuti kegelapan. Lalu planet ini akan melakukan perjalanan ke ruang antar bintang dengan kecepatan 18 mil per detik, dikutip dari Futurism, Selasa (28/9/2021).

Dua detik kemudian, Bulan yang biasanya memantulkan sinar matahari juga menjadi gelap. Termasuk juga planet di tata surya yang berkedip terlihat di Bumi juga berhenti memantulkan sinar matahari.

Lalu suhu di Bumi akan turun dan mulai membeku. Futurism mencatat butuh jutaan tahun untuk Bumi menjadi beku padat namun di bagian permukaan suhu akan turun di bawah 0 derajat celcius dalam minggu pertama lalu minus 100 derajat celcius pada tahun pertama.

Selanjutnya suhu akan stabil di suhu minus 240 derajat celcius selama beberapa juta tahun, sementara energi panas Bumi juga masih bekerja.

Fotosintesis yang biasanya dibantu matahari juga akan berhenti, dan seluruh tanaman akan mati. Sebagian besar Spesies juga hanya bertahan dalam waktu singkat sebelum musnah.

Selanjutnya populasi manusia juga akan musnah. Beberapa di antara mereka memilih berpindah ke dekat pusat Bumi dan hidup dari energi panas Bumi.

Lalu Bumi akan membeku dan menjadi bongkahan batu yang kokoh serta beku dan berjalan di ruang angkasa.

Senin, 20 September 2021

Radikalisme Telah Tumbuh di TNI dan Polri ?

Radikalisme Telah Tumbuh di TNI dan Polri ?

Tidak Ada Islam Dalam Tubuh ISIS | PinterPolitik.com

Pendiri Negara Islam Indonesia (NII) Crisis Center Ken Setiawan menyoroti dinamika radikalisasi di kalangan aparat, khususnya di tubuh TNI dan POLRI

Menurut Ken, saat ini radikalisasi terjadi di semua lini. Benar-benar tidak ada yang steril. Setiap hari mata kita dibikin terbelalak, dengan fenomena-fenomena baru, masifnya radikalisme.

Ketika Menteri Pertahanan menyatakan bahwa 3% TNI terpapar radikalisme, kita semua kaget, ternyata radikalisme sudah menembus benteng terakhir pertahanan NKRI. Belum selesai kekagetan kita, disusul munculnya riak-riak radikalisasi di tubuh Polri, dengan munculnya komunitas Polri Cinta Sunah.

Kapolri menurut Ken sampai saat ini belum berani mengambil sikap atas hal ini karena di lematis, secara kayakinan agama bukan Islam, jadi mungkin banyak pertimbangan, bisa dianggap anti Islam jika menindak dan memproses pelaku cinta sunnah.

Ken juga akhir akhir ini melihat fenomena istilah hijrah, bahkan kini muncul banyak komunitas tentang hijrah yang digandrungi kalangan milenial, bahkan artis juga tiba tiba ikut ikutan hijrah.

Secara istilah, hijrah memang baik. Sayangnya hijrah yang selama ini nge-trend justru yang mengarah pada radikalisme, sehingga hijrahnya awalnya dari nakal berubah rajin ibadah berubah "Dari nakal, menuju radikal". Dan yang sampai sekarang belum ketemu jawabannya adalah faktor apa yang membuat TNI-Polri bisa teradikalisasi. Bisa jadi memang ada infiltrasi agenda kelompok rasikal untuj kudeta, sehingga mereka merekrut aparat. Jelas Ken.

Tidak salah berjenggot dan bergamis, tapi kalau ada polisi dan tentara bergamis dan bergamis gimana gitu, saya rasa ada kode etik di internal aparat kita yang tidak memperbokehkan hal itu. Jelas Ken.

Maka ketika ada polisi atau tentara bergabung dengan Salafi Wahabi dan sejenisnya, kemungkinannya hanya satu yaitu nasionalismenya hilang dan berubah jadi arabisasi, sebab kelompok tersebutlah yang selalu teriak anti adat budaya tradisional nusantara.

Baik Salafi Wahabi, Ihwanul Muslimin, dan HTI ideologinya mirip-mirip, ketemu dalam hal sama-sama menolak budaya, adat, dan tradisi, karena itu semua dianggap kreasi manusia (ro'yu). Tolak ukur boleh tidaknya perbuatan adalah amalan Sunnah atau bukan. bila tidak sesuai kaidah mereka maka divonis Bid'ah.

Jadi kalau ada Polisi Cinta Sunah, maka otomatis ada Polisi Bid'ah, wah bahaya itu. Terang Ken.

Konsekuensinya, upacara bendera, doa bersama dengan agama lain, dan ritual lainnya, yang tidak termasuk Sunnah, adalah bid'ah, fasiq, dan kafir. Bayangkan, apa jadinya jika ideologi semacam itu yang diyakini oleh anggota polisi.

Selaku eks pelaku radikalisme, Ken menyarankan agar Polri dan TNI mencari ormas atau kelompok keagamaan yang terbukti cinta NKRI. Yang menyadari bahwa NKRI adalah bumi sujud kita.

Kesalehan itu baik, penyalurannyapun harus baik dalam bingkai agama yang berwawasan kebangsaan. Jangan yang melawan negara. Jangan sampai salah mencari guru/ustadz, karena akibatnya akan menyesal di kemudian hari, ya seperti saya yang pernah jatuh dalam kubangan hitam radikalisme. Jelas Ken.

Beragama bagi Ken bukan hanya bicara ritual formal saja, kelihatan rajin ibadah, dengan adzan lagsung ke masjid dan tampilan agamis, tapi juga bicara ahlak dan etika dalam menjalankan tugas bernegara.

Lucu kan bila ada Polisi tidak mau jamaah dengan masyarakat karena ada qunut dalam sholat dan tahlil serta tidak mau hormat bendera dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya karena dianggap bid'ah dan syirik.

Jika Kapolri tidak menganggap ini serius maka ini akan jadi preseden buruk bila membiarkannya, karena disatu sisi Densus 88 yang juga bagian dari aparat kepolisian getol menangkap pelaku teror, jangan salah bila suatu saat Polri Cinta Sunnah ini besar maka dilematis ini akan akan menjadi senjata makan tuan. Tutup Ken.


Sumber: https://niicrisiscenter.com/2021/09/20/ken-setiawan-kapolri-dilematis-hadapi-fenomena-polri-cinta-sunnah

Jumat, 17 September 2021

MELAWAN FITNAH SEJARAH PAGANISME DAN KANIBALISME

MELAWAN FITNAH SEJARAH PAGANISME DAN KANIBALISME

Melacak Jejak Kerajaan Panai di Tanah Batak - Historia

Suku asli Nusantara terdahulu "Batak" adalah "Paganisme" juga "Kanibalisme".......benarkah...?

Simak klarifikasinya :
Sejak abad ke-2 M dan selama satu milenium terpublikasi lewat tulisan Ptolemaeus, Sumatra bagian utara dianggap sebagai daerah berbahaya karena diduga dihuni oleh sejumlah masyarakat "Kanibal"

Sebelum dan sesudah abad ke-5-6 M, melalui sebuah tempat yang bernama "Barus" wilayah kaya dengan kamper, yang diekspor ke Eropa....karena inilah isyu dan publikasi di hembuskan bangsa lain "memfitnah" untuk menguasai nya...

Gambaran tentang publikasi di atas jelas
dengan persinggahan Marco Polo di bagian Utara Sumatra tahun 1291, Ia adalah orang pertama yang mencatat kehadiran Islam yang bermukim di kota-kota pesisir dan menyebut masyarakatnya mayoritas penganut paganisme yang biadab dan sebagian kanibal yang tinggal di pegunungan dan belum dikenal dunia luar

Pada awal abad ke 13 M, Zhao Rugua mencatat sebuah negeri bernama Pa-t'a, di
bawah kuasa Sriwijaya, Sejarah resmi dinasti Yuan (Yuanshi) mencatat kedatangan utusan dari Ma-da di istana maharaja Tiongkok
pada tahun 1285

Kaitan antara Pa-t'a dan "Bata"...adalah suku kata "ma" diucapkan "ba" dalam dialek yang digunakan di bagian selatan Fujian,nama tempat ini adalah "Bata", Tetapi kedua sumber Tionghoa ini tidak mengaitkan nama negeri "Bata" dengan sebuah masyarakat kanibal, masyarakat nya beradat yang sama
dengan masyarakat di Jawa dan di Melaka,
tambahan informasi juga mengenai adanya orang-orang bertato

'Pires' mencatat tiga tempat yang menjadi pusat aktivitas dengan pedagang asing di Pesisir Timur Laut, yaitu Bata (di selatan Pasai) dengan barang perdagangan utama rotan, Aru yang memiliki
cukup banyak kamper dan banyak kemenyan, serta Arcat

Nama suku "Bata" muncul dari Fernão Men-des Pinto, (1509-1583) orang Eropa
pertama yang pernah pergi ke pedalaman utara
Sumatra dan meninggalkan jejak tertulis.

Dalam karyanya berjudul Peregrinação,penjelajah Portugis ini di antaranya mencatat kunjungan duta "Raja
orang Bata" ke kapten Melaka yang baru, Pedro de Faria, tahun 1539.Mendes Pinto antara lain melaporkan bahwa raja ini penganut paganisme

Duarte Barbosa (1480-1521) juga menulis
tentang kerajaan Aru yang ketika itu dikuasai oleh orang-orang kanibal penganut paganisme

Nicolo de' Conti tinggal selama setahun di kota
Sciamuthera (Samudra) tahun 1430 dan menjadi orang pertama yang menyebut nama tempat "Batech" yang gemar berperang

Awal
abad ke-16 melalui Tomé Pires yang menyebut
"Seorang Raja dari Bata" dalam laporannya Sumatra
Oriental (1512-1515)

Nama suku "Batang" muncul dalam sumber-sumber Arab lima belas tahun sesudah kisah Pinto. Penyair dan sastrawan Turki Sidi 'Ali Celebi tahun 1554
menyebut tentang pemakan manusia yang ber-
mukim di bagian barat Pulau Sumatra

Tahun 1563, Joao de Barros menggunakan kembali nama suku "Batas" dan menyebutkan bahwa masyarakat kanibal "yang paling liar dan paling gemar berperang sedunia" ini menghuni bagian pulau yang berhadapan dengan Melaka

Sudut pandangnya mengenai geografi suku-suku hanya mengulang pandangan yang sudah berumur hampir tiga abad lalu, yang menghadapkan kaum "Moros" (orang Islam), yakni orang asing yang datang untuk berdagang dan bermukim di daerah pantai, dengan kaum "Gentios" (penganut paga-
nisme), penduduk asli di daerah pedalaman

Charles Miller masuk ke pedalaman Tapanuli tahun 1772.Miller terkesan oleh keberagaman bahasa penduduk di pedalaman,menulis tentang sebuah masyarakat kanibal bernama "Battas" yang berbeda dari semua penduduk lain di Sumatra , Sepuluh tahun kemudi-
an diterbitkan sintesis-sintesis pertama tentang Sumatra, yaitu sebuah artikel oleh Radermacher (1781) dan karya William Marsden yang terkenal, History of Sumatra (1783)

Semua catatan bangsa lain diatas menulis dan mempublikasikan suku asli terdahulu "Batak" adalah "Paganisme" juga "Kanibalisme"...benarkah....?

Ada banyak perdebatan ilmiah mengenai asal-usul istilah "Paganisme" ,terutama karena sebelum abad ke 20 tidak ada satu pun yg mengidentifikasi diri sebagai Paganism

"Paganisme" adalah istilah yang pertama muncul di antara komunitas Kristen dari Eropa selatan selama akhir zaman sebagai "Descriptor" dari agama-agama lain selain mereka sendiri atau terkait agama-agama Ibrahim yaitu Yudaisme dan Islam

Setelah agama-agama Ibrahim mulai menjadi lebih banyak diadopsi,yang dikenal sebagai Kristenisasi dan Islamisasi,Berbagai nama dan istilah di buat untuk menggambarkan orang-orang yang tidak mematuhi agama Ibrahim tersebut, mereka mulai berkembang beberapa di antaranya termasuk "Hellene" , "Pagan" ,pada awal nya nama-nama ini digunakan sebagai penyebutan kepada ajaran selain yg di bawa Ibrahim

Pada abad ke-19, paganisme itu kembali diadopsi sebagai "Self-Descriptor" oleh anggota berbagai kelompok yg terinspirasi oleh dunia kuno....

....jadi istilah "Paganisme" baru ada pada abad 19 ...dan tulisan diatas tentang "Paganisme" sebelum abad 19 di Sumatra adalah "Mustahil"....

Perhatikan lagi...ini hal yang lebih penting guna meng klarifikasi "Publikasi" bangsa lain terhadap suku asli Nusantara "Parmalim #Batak"...

Tentang  Parmalim, Tercatat sudah ada pada  1450 tahun Batak atau Tahun 497 Masehi,...ini lebih dahulu ada sebelum orang orang eropa datang membawa rempah rempah ke negrinya

1. Mulajadi Na Bolon,Adalah sebutan Tuhan Yang Maha Besar tempat semua makhluk berasal
2. Tempat Ibadah: Bale Parpitaan dan Bale Partonggoan
3. Kita Suci: Tumbaga Holing
4. Pembawa Agama AtauTokoh Spiritual: Raja Uti
5. Pantangan: Riba, Makan Darah, Babi dan Anjing serta Monyet

Dalam budaya adatnya terdapat :
  Martutu Aek, Ritual pembabtisan dan pemberian nama seorang bayi pada hari ketujuh kelahirannya
  Pasahat Tondi, Upacara kematian
Samisara/Mararisantu, peribadatan setiap hari sabtu
  Mardebata, Peribadatan atas niat seseorang
  Mangan Mapaet, Peribadatan memohon penghapusan dosa
  Sipaha Sada, Peribadatan hari memperingati kelahiran Simarimbulubosi
  Sipaha Lima, Peribadatan hari persembahan/kurban
  Subang Bolon , Pantangan besar atau diharamkan memakan daging babi, kucing, anjing, binatang-binatang liar lainnya dan darahnya

Tidak ada tercermin Paganisme pada budaya #Parmalim Batak"...Juga pantangan besarnya adalah diharamkan memakan daging babi, kucing, anjing, binatang-binatang liar lainnya juga darahnya....bagaimana ini bisa di sebut #Kanibalisme" jika darah hewan saja adalah pantangan besarnya....

Maka tinggalkan catatan sejarah versi penjajah...


INDONËSIARYĀ
True Back History of Indonesia
Exploration & Research
By : #Santosaba
(Revicionist History )
Chat on  : bit.ly/3xmsE37
https://santosaba.catalog.to
https://anchor.fm/santo-saba
http://msha.ke/santosaba

Sabtu, 11 September 2021

Soekarno di Mata Orang Afrika

Ben Mboi: 'Mohon Maaf Bung Karno'
"Soekarno di Mata Orang Afrika"

Soekarno Penggemar Berat Sate, Punya Tempat Sate Favorit di Bandung

BRIGJEN TNI (Purn.) dr. Aloysius Benedictus Mboi, MPH adalah Gubernur NTT (Nusa Tenggara Timur) dua periode (1978-1988).

Ben Mboi, demikian nama populernya, lahir di Ruteng, Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur, 22 Mei 1935, kemudian meninggal di Jakarta, 23 Juni 2015 pada umur 80 tahun.

Beliau salah satu dari ratusan anggota DPRGR/MPRS yang memberhentikan Soekarno sebagai presiden Republik Indonesia dan melantik Soeharto sebagai presiden pada 27 Maret 1968.

Namun, kemudian dia menyesal setelah sebuah pengalaman menyentaknya ketika bertemu dengan orang-orang Afrika.

Ben Mboi menceritakan pengalamannya itu dalam Memoar "Seorang Dokter, Prajurit, Pamong Praja".

Pada 1971 dia mengambil gelar Master of Public Health di Belgia. Di sana, dia bertemu dokter-dokter dari Afrika dan Timur Tengah, antara lain Tanzania, Uganda, Kongo, Kamerun, Nigeria, Mesir, Irak, Iran, dan Kuwait.

Mereka bertanya, "Anda dari mana?"

Ben menjawab dari Indonesia.

"Oh Indonesia Soekarno?"

"Tidak," kata Ben. "Indonesia Soeharto!"

"Di mana Soekarno?"

"Soekarno sudah disingkirkan dan sudah meninggal."

"Kenapa dia disingkirkan?

"Ben menjawab seperti mode pada saat itu, "Soekarno bersimpati terhadap komunisme."

"Apa?…… Karena bersimpati pada komunis kamu singkirkan dia? Dia yang membawa kamu jadi merdeka, kamu singkirkan hanya karena dia bersimpati pada komunis? Astaga, kamu lebih pentingkan komunisme daripada kemerdekaan? Kamu tidak tahu terima kasih!"

"Supaya Anda tahu, kami orang Afrika merdeka oleh getaran yang digerakkan oleh Soekarno, yang membangkitkan harga diri dan patriotisme orang Afrika.

Aneh, …dia yang bawa kamu ke pintu gerbang kemerdekaan malah kamu singkirkan!"

"Saya tidak dapat menjawab. Betapa pentingnya makna kemerdekaan itu. Betapa pentingnya seorang Bapak Bangsa itu, yang membawa kita ke pintu gerbang kemerdekaan," kata Ben Mboi yang kemudian menjadi Gubernur Nusa Tenggara Timur.

Salah satu getaran yang digerakkan Soekarno adalah Konferensi Asia Afrika pada 1955. Bangsa-bangsa Asia dan Afrika, terutama yang belum merdeka, memenuhi undangan Soekarno untuk menghadiri Konferensi Bandung itu, untuk menuntut kemerdekaannya.

Akhirnya, Ben Mboi pun menyadari bahwa "oleh bangsa-bangsa Afrika Soekarno disamakan dengan Musa yang membawa orang Israel keluar dari perbudakan Mesir. Dan kita, orang Indonesia, mencampakkan dia dari ingatan sejarah.

Mohon Maaf Bung Karno !!



Sumber: http://share.babe.news/s/cxRQQwxsTR

Minggu, 22 Agustus 2021

Kesatuan Kita

Kesatuan Kita
by. Erizeli Jely Bandaro

Nilai-Nilai Setiap Sila Pancasila yang Perlu Diketahui dan Dipahami - Ragam  Bola.com

Saya bergaul dengan banyak kalangan. Dari pengusaha, elite partai, wartawan, profesional, pejabat dan tentu direksi BUMN. Tidak ada satupun satu persepsi terhadap kebijakan pemeritah. Saya meliat itu buah dari demokrasi yang membuat orang berpikir pragmatis, tidak ideologis. Ada komaris BUMN yang ditunjuk pemerintah, soan ke partai oposisi.Kadang soan juga ke ormas besar. Dia ikut menjelekan pemerintah dengan tujuan dapat simpati politik untuk menang dalam intrik dengan direksi. Ada pejabat negara yang seenaknya mentertawakan kebijakan pemerintah. Padahal dia bagian dari abdi negara yang harus satu visi dengan presiden.

Ada teman pendukung setia Jokowi, menebarkan kebencian terhadap Taliban. Padahal dia tahu. Tanpa peran Jokowi tidak pernah taliban diperhitungkan secara politik. Bagi rezim Ghani, Taliban adalah Kelompok kriminal bersenjata. Tetapi berkat Indonesia, Taliban bisa masuk dalam dialogh perdamaian. Kebayangkan, KKB ikut berdamai dengan pemerintah resmi. Hebatnya, itu berkat peran Jokowi dengan memprakarsai pertemuan ulama international di Bogor.  Sejak tahun 2015 Jokowi dua kali bertemu dengan Presiden Ghani dan Jk empat kali. Dukungan teman itu kepada Jokowi karena dasar pragmatis. Sama saja dukung Jokowi tapi anti PDIP.

Berlarut larut penyelesaian masalah BUMN, seperti Asabri, Jiwasraya, Garuda, Waskita, itu karena internal BUMN juga terbelah. Antar direksi ada faksi berdasarkan backing partai. Bisa partai oposisi bisa juga bagian dari koalisi. Kemudian dikementrian juga sama. Bertambah runyam, DPR juga tidak satu suara. Semua bicara soal kepentingan. Akibatnya, masalah sederhana jadi runyam.  Setelah kerugian membesar tanpa bisa lagi bermain intrik. Direksi dan pejabat dikorbankan. Lihatlah kasus Asabri dan Jiwasraya. Kerugian ditutupi dengan PMN.

Banyak lagi proses politik melambat bahkan tersendat ketika diaplikasikan. Karena ketidak jelasan sikap antar semua komponen. Di internal pemerintah, di luar pemerintah, dan di akar rumput terjadi polarisasi yang sangat mengkawatirkan. Liat aja postingan di sosial media. Kalau tidak ada perubahan konstitusi yang memastikan pancasila sebagai idiologi tertutup untuk mendukung kekuasaan  lembaga kepresidenan, dengan merestuktur MPR/DPR, maka hanya masalah waktu negeri ini akan pecah. Sudah sangat mengkawatirkan. Apalagi era digital dimana negara tidak berdaulat atas IT…

Sabtu, 21 Agustus 2021

Bersumber dari Pendangkalan

Bersumber dari Pendangkalan
by KH. Abdurrahman Wahid

Gus Dur Gitu Aja Kok Repot - Home | Facebook

Pada sebuah diskusi beberapa tahun yang lalu di Masjid Sunda Kelapa, Jakarta, penulis dikritik oleh Dr Yusril Ihza Mahendra, sekarang Menteri Kehakiman dan HAM. Kata Bang Yusril, ia kecewa dengan penulis karena bergaul terlalu erat dengan umat Yahudi dan Nasrani. Bukankah kitab suci Al-Quran menyatakan salah satu tanda-tanda seorang muslim yang baik adalah "bersikap keras terhadap orang kafir dan bersikap lembut terhadap sesama muslim (Asyidda a'la al-kuffar ruhama baynahum).

Menanggapi hal itu, penulis menjawab, sebaiknya bang Yusril mempelajari kembali ajaran Islam, dengan mondok di pesantren. Karena ia tidak tahu, bahwa yang dimaksud Al Quran dalam kata "kafir" atau "kuffar" adalah orang-orang musyrik (polytheis) yang ada di Mekkah, waktu itu. Kalau hal ini saja, bang Yusril tidak tahu, bagaimana ia berani mengemukakan hal itu?

Berdasar kenyataan itu, penulis tidak begitu heran dengan terjadinya kekerasan di Maluku, Poso, Aceh dan Sampit. Penulis mengutuk peledakan bom di Legian, Bali, karena itu berarti pembunuhan atas begitu banyak orang yang tidak bersalah. Tetapi kutukan itu, tidak berarti penulis heran atas terjadinya peledakan bom itu. Karena dalam pandangan penulis, hal itu terjadi akibat para pelakunya tidak mengerti, bahwa Islam tidak membenarkan tindak kekerasan dan diskrimanatif. Satu-satunya pembenaran bagi tindakan kekerasan secara individual adalah, jika kaum muslimin di usir dari rumahnya (Idza ukhrizu min diyarihim). Karena itulah, ketika harus meninggalkan Istana Merdeka, penulis meminta Luhut Panjaitan mencari surat perintah dari Lurah sekalipun.

Sebabnya, karena ada perintah lain dalam Sunny tradisional yang diyakini penulis, untuk taat pada pemerintah. Berdasar ayat kitab suci itu, "taatlah kalian pada Allah, pada utusan-Nya dan pada pemegang kekuasaan pemerintahan" (Athi u' allaha wa al-rasullah wa uli al-amri minkum). Pak Luhut Panjaitan mencarikan surat perintah itu dari seorang Lurah, dan penulis sebagai warga negara dan rakyat biasa –karena lengser dari jabatan kepresidenan— mengikuti perintah tersebut. Soal bersedianya penulis lengser dari jabatan kepresidenan, karena penulis mengaggap tidak layak jabatan setinggi apapun di negeri ini, dipertahankan dengan pertumpahan darah. Padahal waktu itu, sudah ada pernyataan yang ditandatangani 300.000 orang akan mendukung penulis mempertahankan jabatan kepresidenan, kalau perlu mengorbankan nyawa.

Tindak kekerasan –walaupun atas nama agama— dinyatakan oleh siapapun dan dimana pun sebagai terorisme. Beberapa tahun sebelum menjabat sebagai Presiden, penulis merencanakan berkunjung ke Israel untuk menghadiri pertemuan para pendiri Pusat Perdamaian Shimon Peres di Tel Aviv. Sebelum keberangakatan ke Tel Aviv, penulis menerima rancangan pernyataan bersama, yang oleh Rabi Kepala Sevaflim Eli Bakshiloron. Dalam rancangan pernyataan itu, terdapat pernyataan penuli dan Rabai yang menyatakan "berdasarkan keyakinan agama Islam dan Yahudi, menolak penggunaan kekerasan yang berakibat pada matinya orang-orang yang tidak berdosa".

Pengurus Besar NU mengutus Wakil Rais Aam, KH Sahal Mahfudh untuk memeriksa rancangan pernyataan itu. KH Sahal Mahfudh meminta kata-kata "tidak berdosa" diubah menjadi "tidak bersalah".

Mengapa demikian? Karena, yang menentukan seseorang itu berdosa atau tidak adalah Allah SWT. Sedangkan salah atau tidaknya seseorang oleh hakim atau pengadilan, berarti oleh sesama manusia. Penulis menerima keputusan itu dan perubahan rancangan pernyataan tersebut, juga diterima oleh Rabi Eli Bakshiloron. Ketika tiba di Tel Aviv, penulis bersama Rabi Eli langsung menuju kantornya di Yerusalem. Di tempat itu, penulis dan Rabi Eli menandatangani pernyataan bersama itu di depan publik dan media massa. Ini menunjukkan bahwa, Nahdlatul Ulama sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia –bahkan menurut statistic sebagai organisasi Islam terbesar di dunia- menolak terorisme dan pengunaan kekerasan atas nama agama sekalipun. Karena itu, kita mengutuk peledakan bom di Bali dan menganggapnya sebagai "tindak kejahatan/ kriminal" yang harus dihukum.

Keseluruhan penolakan penulis itu, bersumber pada pendapat agama yang tercantum dalam literatur keagamaan (Al qutub al-muqarrahrah), jadi bukannya isapan jempol penulis sendiri. Mengapa demikian? Karena Islam adalah agama hukum, karenanya setipa sengketa seharusnya diselesaikan berdasarkan hukum. Dan karena hukum agama dirumuskan sesuai dengan tujuannya (Al amru bima qa shidiha), maka kita patut menyimak pendapat mantan ketua Mahkamah Agung Mesir, Al Asmawi. Menurutnya, "hokum barat" dapat dijadikan "hukum Islam", jika memiliki tujuan yang sama. Hukum pidana Islam (zarimah), menurut Al Asmawi, sama dengan hokum pidana barat, karena sama berfungsi dan bertujuan menahan (defences) dan menghukum (punishment).

Namun, mengapa terorisme dan tindak kekerasan yang lain masih juga dijalankan oleh sebagian kaum muslimin? Kalau memang benar kaum muslimin melakukan tindakan-tindakan tersebut , jelas bahwa mereka telah melanggar ajaran-ajaran agama. Pertanyaan di atas dapat dijawab dengan sekian banyak jawaban, antara lain rendahnya mutu sumber daya manusia pada para pelaku tindak kekerasan dan terorisme itu sendiri. Mutu yang rendah di kalangan kaum muslimin, dapat dikembalikan kepada aktifitas imperalisme dan kolonialisme yang begitu lama menguasai kaum muslimin. Ditambah lagi dengan, orientasi pemimpin kaum muslimin yang sekarang menjadi elite politik nasional. Mereka selalu mementingkan kelompoknya sendiri dan membangun masyarakat Islam yang elitis.

Apa pun bentuk dan sebab tindak kekerasan dan terorisme, seluruhnya bertentangan dengan ajaran Islam. Hal ini adalah kenyataan yang tidak dapat dibantah, termasuk oleh para pelaku kekerasan dan terorisme yang mengatasnamakan Islam. Penyebab lain dijalankannya tindakan-tindakan yang telah dilarang Islam itu -sesuai dengan ajaran kitab suci Al Quran dan ajaran nabi Muhammad SAW- adalah proses pendangkalan agama Islam yang berlangsung sangat hebat. Walau kita lihat, adanya praktek imperialisme dan kolonialisme atau kapitalisme klasik di jaman ini terhadap kaum muslim, tidak berarti proses sejarah itu memperkenankan kaum muslim untuk bertindak kekerasan dan terorisme.

Harus kita pahami, bahwa dalam sejarah Islam yang panjang, kaum muslim tidak menggunakan kekerasan dan terorisme untuk memaksakan kehendak. Lalu, bagaimanakah cara kaum muslimin dapat mengadakan koreksi terhadap langkah-langkah yang salah, atau mencari "responsi yang benar" atas tantangan berat yang dihadapi? Jawabannya, yaitu dengan mengadakan penafsiran baru (re-interpretasi). Melalui mekanisme inilah, kaum muslimin melakukan koreksi atas kesalahan-kesalahan yang diperbuat sebelumnya, maupun memberikan responsi yang memadai atas tantangan yang dihadapi. Jelas, dengan demikian Islam adalah "agama kedamaian" bukannya "agama kekerasan". Proses sejarah Islam di kawasan ini, adalah bukti nyata akan hal itu, walaupun di kawasan-kawasan lain, masih juga terjadi tindak kekerasan –atas nama Islam— yang tidak diharapkan. Mudah dalam prinsip, namun sulit dalam pelaksanaan bukan?

Jakarta, 31 Desember 2002

Jumat, 13 Agustus 2021

Mencla-Mencle Soal di Jatim Sudah Ada Herd Immunity, Seknas Jokowi: Khofifah Otoriter dan Tidak Mau Dapat Saran Dari Masyarakat

Mencla-Mencle Soal di Jatim Sudah Ada Herd Immunity, Seknas Jokowi: Khofifah Otoriter dan Tidak Mau Dapat Saran Dari Masyarakat

Anies dan Khofifah Hadiri Kongres Partai Nasdem, Apa Maknanya?

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dinilai mejadi kelihatan otoriter, anti kritik dan tidak mau mendapat masukan dari masyarakat.

Hal ini disampaikan oleh Sekretariat Nasional (Seknas) Jokowi Jatim pada Jumat (13/8/2021), menanggapi polemik yang muncul akibat perilaku Khofifah dalam menangani pandemi covid-19. Dimana sebelumnya Khofifah menyatakan bahwa ada daerah di Jatim yakni Surabaya dan Mojokerto sudah mencapai Herd Immunity atau kekebalan komunal.

Klaimnya yang dimuat dan viral di berbagai media itu tentu saja memicu kritik, saran dan masukan dari masyarakat agar sebagai Gubernur . Khofifah tidak sembarangan klaim bahwa sudah ada Herd Immunity di Jatim.  Karena jika sudah ada Herd immunity, tentunya tidak perlu lagi ada Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dengan dalih untuk mencegah meluasnya penularan covid-19.

Setelah panen kritik, tiba-tiba Khofifah menyangkal bahwa sebelumnya dia pernah menyatakan bahwa kota Mojokerto dan kota Surabaya sudah mencapai Herd Immunity.

Untuk itu entah ada faktor apa, ada media yang menghapus pemberitaan "Khofifah Sebut Surabaya dan Mojokerto Sudah Herd Immunity" dan menggantinya dengan berita lain. Akan tetapi sebelum dihapus dan diganti dengan berita lain, sudah banyak masyarakat yang melakukan screenshoot atau tangkap layar atas berita tersebut, sehingga jejak digital tidak sempat terhapus/hilang.

Sedangkan beberapa media tidak mau menghapus pemberitaan "Khofifah Sebut Surabaya dan Mojokerto Sudah Herd Immunity", karena bisa jadi mereka memang mendengar pernyataan Khofifah seperti itu dan atau memiliki rekamannya.

" Dari rentetan ini, Khofifah terlihat otoriter, anti kritik dan tidak mau mendapat masukan dari masyarakat", kata Sapto Raharjanto, ketua DPW Seknas Jokowi Jatim.

Sebagaimana viral diberitakan, pada Jumat 6 Agustus 2021 Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa sebut Surabaya dan kota Mojokerto sudah mencapai Herd Immunity.

Dengan pernyataannya itu, Khofifah diingatkan oleh berbagai kalangan masyarakat, diantaranya oleh Deni Wicaksono, anggota Komisi E DPRD Jatim yang menbidangi kesehatan, agar hati-hati membuat narasi atau klaim adanya pencapaian herd immunity pada sejumlah daerah di Jatim.

Saran atau nasehat yang diberikan oleh Deni pada Sabtu 7 Agustus 2021 itu karena herd immunity baru terwujud ketika sebagian besar orang dalam kelompok sudah memiliki kekebalan terhadap penyakit infeksi. Salah satu jalannya lewat vaksinasi. Konsensus ahli, sekitar 70 persen warga tervaksin, tapi dalam konteks Covid-19, itu tercapai ketika sudah lengkap dua dosis. Faktanya, tidak ada satu pun kabupaten/kota atau provinsi di Indonesia yang telah mencapai itu.

Deni menyebut pernyataan  Khofifah itu menjerumuskan karena berpotensi membuat masyarakat di daerah yang disebut Khofifah sudah herd immunity lengah terhadap Covid-19 yang masih mengganas.

Pernyataan Khofifah itu menurut Deni, juga juga berpotensi mengadu domba karena publik di daerah tersebut akan memprotes keras pemerintah kota atau kabupatennya, mengapa tetap ada pembatasan (PPKM) ketika herd immunity sudah diklaim oleh Gubernur Jatim

Begitu diingatkan atau diberi saran, entah ada apa sontak beberapa media menghapus berita yang berisi klaim Khofifah bahwa di Jatim sudah ada daerah yang mencapa herd immunity, akan tetapi beberapa media lain tidak mau menghapus pemberitaan tersebut.

Dan pada Senin 9 Agustus 2021, saat mengudara pada sebuah acara radio sebagaimana disiarkan https://www.instagram.com/p/CSWLCmlMCbw/ , Khofifah menyangkal bahwa dirinya pernah bilang bahwa Kota Mojokerto dan Surabaya sudah mencapai herd immunity.

Bantahan Khofifah pada siaran tersebut akhirnya menuai banyak kritik dari para pemirsa, diantaranya yang disuarakan oleh @umaralhakimhakim yang menyatakan "Alasane uakeh (alasannya buanyak), pemimpin yang baik itu sebelum melempar pernyataan harus disesuaikan dengan data dan realita".

Sedangkan @andik_rekkles berkomentar "Omonganmu mbulet koyo... (Bicaramu ruwet/ silang sengkarut seperti...)"

Malah ada yang sinis seperti @erryseptiawan yang menyindir "Ayo bu pesta ulang tahun maneh, mumpung PPKM belum ditutup (Ayo bu pesta ulang tahun lagi, mumpung PPKM belum ditutup)


Ketua Seknas Jokowi Jatim
Sapto Raharjanto
HP/WA: 082141751575