Senin, 08 Agustus 2016

Wakil Walikota Probolinggo Ditahan Kejati Jatim Diduga Korupsi DAK Pendidikan Rp.1,68 Milyar

Wakil Walikota Probolinggo Ditahan Kejati Jatim Diduga Korupsi DAK Pendidikan Rp.1,68 Milyar
Wawali Probolinggo Ditahan Kejati Jatim Diduga Korupsi DAK Pendidikan Rp 1,68 Miliar
Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jatim menahan Wakil Wali Kota Probolinggo yakni Suhadak. Dia tersangkut kasus dugaan korupsi dana alokasi khusus (DAK) pendidikan Rp 1,68 miliar tahun anggaran 2009 lalu, Kamis (4/8/2016) sore.

Suhadak ditahan bersama satu tersangka lainnya, yakni Sugeng Wijaya, dari pihak swasta selaku rekanan. Sementara HM Buchori, eks Wali Kota Probolinggo, yang juga tarsandung dalam kasus ini masih tahap peningkatan status sebagai tersangka.

Dana yang bersumber dari APBN 2009 itu, digunakan untuk bantuan fisik sekolah. Saat itu, HM Buchori masih aktif menjabat sebagai Wali Kota Probolinggo dan Suhadak sebagai rekanan proyek DAK.

Sementara Kepala Seksi Penerangan Hukum Kejati Jatim, Romy Arizyanto mengatakan, dalam dugaan kasus Korupsi DAK Probolinggo 2009 ini ada tiga tersangka. Yakni Wakil Wali Kota Probolinggo yang masih aktif bernama Suhadak, mantan Wali Kota Probolinggo HM Buchori dan pihak swasta, Sugeng Wijaya.

"Penahanan dilakukan setelah jaksa menerima pelimpahan tahap dua (tersangka dan barang bukti) dari penyidik Kejaksaan Agung (Kejagung), Kamis pagi di Kejati Jatim, untuk DAK Pendidikan tahun 2009 untuk Kota Probolinggo sebesar Rp 15,907 miliar. Sementara kerugian negara sampai saat ini terhitung sebesar Rp 1,68 miliar," kata Romy, kepada wartawan.

Romy menjelaskan, hari ini pelimpahan tahap dua untuk tiga tersangka. HM Buchori (eks wali kota), Wakil Wali Kota Suhadak dan Sugeng Wijaya, Direktur CV WIEC Internusa, konsultan perencana.

HM Buchori, kata Romy, masih belum memuhi panggilan dengan alasan karena dirinya hari ini sedang sakit. "Dia mangkir, alasannya sakit, padahal pihak kejati belum menerima laporan apapun tentang dirinya," terang Romy.

Sementara penasehat hukum tersangka Suhadak, yakni Djando, mengungakapkan dirinya kecewa terhadap jaksa. Pasalnya, kliennya masih aktif menjabat sebagai sebagai wakil Wali Kota.

"Tidak seharusnya ambil langkah seperti ini, harus mengikuti prosedural dan harus ada surat izin dari Mendagri. Ketentuan ini tertuang dalam pasal 90 UU No 23/2014 tentang Pemerintahan Daerah," pungkasnya.

Untuk Diketahui, bahwa para tersangka diduga terlibat dalam dugaan korupsi terkait pengadaan mebelair & pembangunan/rehabilitasi gedung sekolah.

Sedangkan untuk korupsi pengadaan alat peraga pendidikan yang melibatkan produsen peraga pendidikan CV Wardana Surabaya dimana produknya diduga tidak sesuai spesifikasi yang ditentukan oleh kementrian pendidikan nasional, masih dalam tahapan penyelidikan dari kejaksaan.



Sumber: http://pemburu-koruptor.blogspot.co.id/2016/08/wakil-walikota-probolinggo-ditahan.html

Perusak Rumah Dinas Kajati Jatim, 2 Anggota Ormas Pemuda Pancasila Dituntut 2 Tahun Penjara

Perusak Rumah Dinas Kajati Jatim, 2 Anggota Ormas Pemuda Pancasila Dituntut 2 Tahun Penjara
Hasil gambar untuk la nyalla mattalitti
Jaksa menuntut dua tahun penjara terhadap Irwanto dan Samsul Anang, dua terdakwa kasus perusakan rumah dinas Kepala Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jatim dan diajukan kepada majelis hakim. Atas hal tersebut, kedua terdakwa yang merupakan anggota ormas Pemuda Pancasila Jawa Timur itu berencana akan mengajukan pembelaan.

Dalam sidang, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ali Prakoso mengajukan tuntutan selama dua tahun penjara kepada majelis hakim yang diketuai Hariyanto. "Memohon agar majelis hakim menjatuhkan hukuman selama 2 tahun penjara kepada para terdakwa," ujar jaksa Ali di Pengadilan Negeri Surabaya

Dalam demo itu, kedua terdakwa yang merupakan anggota ormas kepemudaan itu sempat merusak rumah dinas Kepala Kejati Jatim. Atas hal itulah, polisi lantas melakukan penyelidikan dan berhasil menangkap kedua terdakwa dalam waktu tak sampai 24 jam.

Beberapa pertimbangan dijadikan jaksa untuk mengajukan tuntutan tersebut diantaranya, perbuatan terdakwa telah merusak fasilitas negara dan mengganggu ketertiban umum. Sementara hal yang meringankan adalah kedua terdakwa tidak pernah dihukum.

Atas tuntutan itu, kedua terdakwa mengaku akan mengajukan pledoi (pembelaan) pada persidangan selanjutnya. "Kami akan ajukan pembelaan," ujar Amrullah, kuasa hukum kedua terdakwa, yang juga merupakan group pengacara La Nyalla Mattalitti cs, ketua KADIN (Kamar Dagang & Industri) Jawa Timur.

Sepeti diberitakan sebelumnya, kasus perusakan rumah dinas Kepala Kejati ini terjadi 18 Maret lalu. Saat itu, salah satu organisasi kepemudaaan di Surabaya tengah berdemo menolak penetapan tersangka La Nyalla Mattalitti oleh Kejati Jatim.

Mendengar dirinya dituntut dua tahun penjara, kedua terdakwa tampak bingung. Hakim Hariyanto pun menjelaskan bahwa dirinya dituntut dua tahun penjara karena telah merusak fasilitas negara. "Kalian mengerti? Kalian dituntut pak jaksa dua tahun penjara. Bisa jadi nanti vonisnya dibawah dua tahun," jelas hakim Hariyanto kepada kedua terdakwa.

Menanggapi jalannya sidang tersebut, Syaiful dari lembaga Pemantau Peradilan menyayangkan sikap hakim yang seolah2 sudah berpihak pada para terdakwa, dengan memberi iming2 bahwa akan dijatuhi hukuman ringan.

Seharusnya kebingungan dari para terdakwa itu dibongkar, karena mereka bingung kenapa mereka yang dihukum, sedangkan yang menyuruh mereka merusak rumah dinas Kajati Jatim malah lolos dari jerat hukum.

Seharusnya pengadilan membongkar siapa yang ada dibalik peristiwa kerusuhan itu dan mengungkap siapa yang menyuruh para pelaku itu merusak fasilitas negara. Bukannya malah terkesan berusaha menutupi siapa aktor intelektual dan mengorbankan para terdakwa sebagai satu-satunya pelaku kerusuhan. Sehingga agar tidak membuka siapa yang menyuruh para terdakwa, dengan iming2 bahwa para terdakwa akan mendapat hukuman ringan.

-----------------
Video Pemuda Pancasila Jawa Timur Hajar & Usir Pedagang Tradisional di Sidoarjo untuk merebut lahan pasar tradisional.



Kamis, 04 Agustus 2016

Para Terdakwa Korupsi Alat Peraga Pendidikan di Pangkep Diancam Tahunan Penjara

Para Terdakwa Korupsi Alat Peraga Pendidikan di Pangkep Diancam Tahunan Penjara
Produsen Peraga Pendidikan CV Wardana Surabaya Lolos Dari Jerat Hukum Karena Hanya Sebagai Pemasok pada Rekanan dan Tidak Terlibat Langsung Dalam Proses Pengadaan
Ilustrasi korupsi.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tiga terdakwa kasus dugaan korupsi proyek pengadaan alat peraga untuk sejumlah SMK di Kabupaten Pangkajene Kepulauan diancam pidana tahunan penjara.

"Terdakwa secara bersama-sama melakukan tindak pidana korupsi dengan cara memperkaya diri sendiri maupun orang lain atau korporasi sehingga mengakibatkan kerugian negara," ujar Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ilham di Pengadilan Tipikor Makassar, Rabu (30/3).

Tiga terdakwa itu di antaranya pegawai negeri sipil (PNS) pada Dinas Pendidikan Kabupaten Pangkep, Andi Syamsuddin dan Andi Bustanil serta Direktur CV Putra Wardana, Tubagus Hendrawan bertindak selaku rekanan.

Khusus untuk dua terdakwa yang merupakan PNS Dinas Pendidikan Pangkep itu, punya tanggung jawab dalam memeriksa barang. Keduanya diduga telah menyalahgunakan kewenangannya sehingga mengakibatkan kerugia negara sebesar Rp 249 juta.

Ilham menuturkan kedua PNS dan rekanan proyek pengadaan alat peraga di SMK Pangkep didakwa dua pasal sekaligus. Dalam dakwaan primer dan dakwaan subsider, mereka dikenakan Pasal 2 ayat (1) juncto Pasal 18 dan Pasal 3 juncto Pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2011 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP.

Dalam dakwaan JPU disebutkan bahwa perkara itu bermula atas adanya program pengadaan alat praktek buat sejumlah SMK di Pangkep pada 2014. Proyek tersebut bersumber dari dana APBD Kabupaten Pangkep melalui Dana Alokasi Khusus dan Dana Alokasi Umum sebesar Rp 1,275 miliar.

Setelah dilakukan lelang dan memasuki proses pelaksanaan, Ilham menyebut terjadi banyak penyimpangan. Ilham mengatakan berdasarkan hasil pemeriksaan, alat peraga yang harusnya dikirim ke sejumlah SMK ternyata tidak sesuai spesifikasi.

Produk alat peraga pendidikan yang dipasok oleh Tubagus Hendrawan selaku direktur CV Putra Wardana selaku rekanan dalam proses pengadaan tersebut adalah dari produsen alat peraga pendidikan CV Wardana yang beralamat di Jalan Kalibutuh Surabaya.

Akan tetapi CV Wardana Surabaya selaku produsen lolos dari jerat hukum, karena menurutnya produsen tersebut tidak mengikuti proses pelelangan dan mereka hanya sebagai pihak yang memberi dukungan saja pada rekanan. Sehingga produsen enggan untuk bertanggungjawab, karena selaku produsen mereka hanya mengirim barang pada rekanan dan tidak terlibat dalam proses pengadaan. Sehingga jika ada persekongkolan antara rekanan dan pejabat dinas pendidikan kabupaten Pangkep, produsen tidak terlibat.

"Ada sejumlah barang yang tidak diterima dan ada pula sejumlah barang yang tidak lengkap dan itu semuanya dilaporkan lengkap," katanya.

Berdasarkan hasil audit dari Inspektorat Kabupaten Pangkep pada 23 Desember 2015 ditemukan kerugian negara sebesar Rp 249 juta. Berdasarkan data kejaksaan, sejumlah alat peraga yang dimaksud, antara lain alat las mekanik dan otomotif, alat teknik gambar



Selasa, 02 Agustus 2016

Selamatkan Bahasa Daerah

Selamatkan Bahasa Daerah
Minimnya Tradisi Sastra Salah Satu Faktor Kepunahan
Inline image
Bahasa-bahasa daerah atau bahasa ibu di Nusantara kini di ambang punah. Harus ada upaya revitalisasi dan dokumentasi. Ancaman itu dengan sendirinya mengancam pula kelestarian ratusan kebudayaan yang menyertai eksistensi bahasa-bahasa ini.

Hal itu dikemukakan Guru Besar Departemen Linguistik Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia Multamia RMT Lauder dan Ketua Yayasan Kebudayaan Rancage Ajip Rosidi dalam Kongres Bahasa Daerah Nusantara di Bandung, Jawa Barat, Selasa (2/8).

Dalam kongres yang dibuka Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar itu, sejumlah pakar bahasa dan budayawan menyampaikan gagasan.

Terungkap bahwa dari 706 bahasa yang ada di Indonesia, 266 di antaranya berstatus lemah dan 75 sekarat. Adapun 13 bahasa kini telah punah, yakni bahasa Hoti, Hukumina, Hulung, Loun, Mapia, Moksela, Naka'ela, Nila, Palumata, Saponi, Serua, Ternateno, dan Te'un. Hal ini diduga belum sepenuhnya disadari oleh para linguis Indonesia.

Untuk mencegah kepunahan itu, revitalisasi, inventarisasi, dan dokumentasi sangatlah mendesak. Dibutuhkan peraturan perundang-undangan yang mengatur bahasa daerah untuk memayungi berbagai kebijakan dan program, termasuk muatan lokal dalam kurikulum sekolah?. Kesadaran akan pentingnya bahasa daerah sebagai jati diri bangsa juga harus terus ditanamkan.

Guru Besar Departemen Linguistik FIB Universitas Mataram, Mahsun, juga mengutip data mengenai jumlah suku bangsa di Indonesia yang berjumlah 659. Jumlah itu adalah hasil survei dari sekitar 2.300 tempat pengamatan. Jika satu suku bangsa memiliki satu bahasa, berarti minimal sebanyak itulah bahasa daerah yang seharusnya ada.

Makin dijauhi

Salah satu faktor kepunahan itu adalah makin dijauhinya bahasa daerah karena dianggap tidak penting. Tidak hanya pengabaian oleh sekolah, bahkan orangtua pun tidak mengajarkan bahasa ibu kepada anak-anaknya. Pasangan suami-istri berlatar belakang suku berbeda lebih memilih berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia dengan anak- anaknya demi kepraktisan. "Saat ini sudah 20-an juta anak yang tidak memiliki bahasa ibu, atau bahasa ibunya adalah bahasa Indonesi?a," kata Multamia.

Generasi milenial yang fasih berbahasa Inggris seharusnya justru tidak sulit belajar bahasa daerah. Apalagi, seiring dengan komunikasi antarbangsa yang mudah melalui internet, belajar apa pun menjadi mudah. Menjadi warga dunia internasional bukan penghalang bagi seseorang untuk belajar bahasa daerah. Justru seseorang bisa disebut cendekia jika bisa menguasai tiga bahasa, yakni bahasa ibu, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris.

Budayawan Remy Sylado mengatakan, punahnya sejumlah bahasa daerah di antaranya disebabkan kurang hidupnya kegiatan sastra. Memang tidak semua daerah memiliki tradisi sastra. Tradisi sastra tulis dengan aksara tersendiri hanya dikenal di beberapa daerah, misalnya Batak di Sumatera, Jawa dan Sunda di Jawa, Bali di Bali, Bugis-Makassar di Sulawesi. Adapun sastra yang ada di Aceh, Minangkabau, bahkan Riau yang merupakan asal bahasa Indonesia ditulis dengan aksara Arab gundul.

"Memang sangat menyedihkan kalau bahasa daerah atau bahasa ibu punah. Bahasa daerah adalah kekuatan yang dapat memperkaya bahasa Indonesia dalam rangka menata kebudayaan nasional, seperti yang dirintis para pendahulu Indonesia Raya. Itulah kebudayaan nasional yang berkepribadian Bhinneka Tunggal Ika," kata Remy.

Ajaib

Menurut Ajip, para penyusun UU Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan tidak memikirkan masa depan bahasa ibu. Bahkan, UNESCO pada 1951 menganjurkan pemakaian bahasa ibu sebagai bahasa pengantar dalam pendidikan agar mudah dipahami. Pada 1953, pemerintah menetapkan pemakaian bahasa ibu sebagai bahasa pengantar hanya sampai kelas III SD. Pada 1975, tidak ada lagi bahasa daerah sebagai pengantar. "Maka, terjadilah keajaiban. Anak-anak belajar bahasa daerah dengan pengantar bahasa Indonesia," kata Ajip.

Kepala Suku Pagu Halmahera Utara, Afrida Elma Ngato,? yang hadir sebagai peserta kongres, mengatakan, betapa bahasa daerah makin dianggap remeh. Bahasa daerah bisa dipelajari di rumah. Kurikulum muatan lokal yang seharusnya diisi dengan bahasa dan budaya lokal justru diisi dengan pendidikan bidang-bidang lain.

Idealnya bahasa-bahasa yang sudah tertolong hampir punah segera didokumentasikan dan diinventarisasikan untuk menyelamatkan berbagai konsep budaya yang terkandung di dalamnya. Namun, inventarisasi bahasa daerah tidaklah mudah, termasuk mencari informan untuk bahasa itu. Sebab, penutur bahasa berstatus sekarat itu pun sulit dicari. Itu baru inventarisasi, belum revitalisasi.


Sumber: harian Kompas edisi 3 Agustus 2016,

Senin, 01 Agustus 2016

Ada Apa Dibalik Peristiwa Arek Bonek Persebaya Serbu Kemenpora?

Ada Apa Dibalik Peristiwa Arek Bonek Persebaya Serbu Kemenpora?
save persebaya 1927 bonekmania
Ribuan Arek Bonek 1927 yang merupakan wadah pendukung Persebaya Surabaya siap menyerbu kantor Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) di Jakarta pada Selasa tanggal 2 Agustus 2016. Bonek akan menuntut kepada Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi untuk mengakui keberadaan Persebaya atau yang sebelumnya sempat memakai nama Persebaya 1927.

"Total ada 3 ribu Bonek dari seluruh penjuru akan datang ke Jakarta," tandas Andi Peci selaku salah satu pengurus Arek Bonek 1927 beberapa waktu lalu.

"Kami akan melakukan aksi didepan kantor Kemenpora untuk minta Menpora merekomendasikan hak hak persebaya yang ada", lanjutnya

"Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI menjadi puncak perjuangan. Kami juga ingin meminta kepada PT MMIB (pengelola Bhayangkara Surabaya United) keluar dari kongres, karena mereka bukanlah anggota PSSI," tegas Andi Peci.

Sebagaimana diketahui, setelah La Nyalla Mattalitti memegang kekuasaan di PSSI, dia mendirikan klub baru yang juga dinamakan persebaya dibawah naungan PT MMIB.

Dimana direktur PT MMIB adalah Diar Kusuma Putra, wakil La Nyalla di dalam kepengurusan KADIN (Kamar Dagang & Industri) Jawa Timur (Jatim).

Dan dalam penyidikan & sidang tindak pidana korupsi (tipikor) kasus korupsi KADIN Jatim yang saat ini menjerat La Nyalla, diketahui bahwa dana hibah dari APBD (Anggaran Penerimaan & Belanja Daerah) propinsi Jatim sejumlah puluhan milyar rupiah itu, diketahui ada dana yang dikorupsi ternyata mengalir ke rekening PT MMIB.

Dalam kasus korupsi tersebut, Diar Kusuma Putra direktur PT MMIB pengelola persebaya versi La Nyalla itu, telah mendapat vonis dari pengadilan tipikor, sedangkan La Nyalla sendiri akan disidangkan di pengadilan tipikor Jakarta untuk mempertanggungjawabkan perbuatan korupsinya.

Klub persebaya baru milik La Nyalla ini langsung berkiprah di divisi utama PSSI, sedangkan klub persebaya yang asli dibawah naungan PT Persebaya Indonesia langsung digusur, dan boleh bergabung dengan PSSI asalkan mau bergabung & berlaga dari divisi yang paling bawah yakni pertandingan antar kampung (tarkam)

Dalam perjalanannya, melalui sidang di pengadilan, Persebaya 1927 di bawah naungan PT Persebaya Indonesia memenangkan gugatan yang diajukan oleh PT Mitra Muda Inti Berlian (MMIB) yang menaungi Bhayangkara Surabaya United terkait nama dan logo Persebaya Surabaya.

Dengan demikian, Persebaya 1927 tetap berhak memakai nama dan logo Persebaya Surabaya meskipun hingga saat ini keberadaan mereka masih belum diakui oleh PSSI pimpinan La Nyalla Mattalitti.

"Boleh saja kami tidak diakui PSSI, tapi kami tidak pernah dikeluarkan dari anggota PSSI. Untuk itu, kami akan menagih hak kami kembali," tandas Ram Surahman, salah seorang pengurus Persebaya 1927.

Sejarah kelam sepakbola nasional saat PSSI dikuasai oleh La Nyalla dan gerombolannya ialah, bahwa selain persebaya, juga ada beberapa klub sepakbola yang mengalami nasib serupa. yakni beberapa klub lama yang legendaris & banyak menyumbang pemain berbakat untuk pembentukan tim nasional dihilangkan. Dan mereka membentuk klub2 baru yang langsung ditempatkan dalam divisi utama PSSI.

Misalnya sepakbola legendaris kebanggaan warga Malang, yakni Arema Indonesia, klub ini dimatikan atau dihilangkan. Sebagai gantinya, La Nyalla Mattalitti dkk lalu membuat klub baru dengan nama Arema Cronus. Demikian juga nasib klub Persema, Persewangi, Persibo, Lampung FC dan masih banyak lagi klub klub yang menjadi korban.

Akibatnya pembinaan bibit pemain sepakbola sejak usia muda hancur dan terpuruklah persebakbolaan Indonesia




Minggu, 31 Juli 2016

Renungan: mencerna informasi yang sekarang gencar disebarkan untuk mengkoyak-koyak Indonesia

Terimakasih sudah menuliskannya dengan bahasa yang lebih mudah dipahami.

Ambon, Titik Balik Saya
Renungan: mencerna informasi yang sekarang gencar disebarkan untuk mengkoyak-koyak Indonesia
Hasil gambar untuk kerusuhan
Besok saya akan ke Ambon, sampai hari Kamis. Ada 2 tujuan ke sana. Pertama, berbagi kepada para mahasiswa. Kedua, ziarah.

Ambon adalah titik balik dalam hidup saya.

Dulu saya menjalani hidup dengan memakai sudut pandang korban. Umat Islam adalah umat yang toleran, tapi umat lain selalu mengganggu. Umat Islam selalu dizalimi.

Jadi wajar saja kalau kami melawan balik untuk mempertahankan diri. Wajar saja kalau kami membalas. Saya selalu yakin bahwa setiap saat umat Islam diusik dan diganggu.

Maka ketika ada kesempatan mereka harus mengusik balik, membalas.

Saya sedang kuliah di Jepang ketika kerusuhan Ambon pecah. Saya marah ketika itu, sangat marah. Kepada siapa? Kepada orang-orang Kristen. Sudah sejak lama saya percaya bahwa orang-orang Kristen melakukan berbagai hal untuk mengganggu umat Islam.

Dengan kristenisasi mereka memurtadkan orang-orang Islam. Pemerintah mereka kuasai, untuk memastikan orang-orang Islam terpinggirkan. Ekonomi juga mereka kuasai, agar orang-orang Islam tetap miskin.

Kini mereka lebih menggila. Di Ambon orang-orang Kristen sudah berani melakukan tindak kekerasan. Mereka terang-terangan melukai dan membunuh orang-orang Islam. Mereka benar-benar musuh yang nyata. Rasanya ingin segera saya terbang ke Ambon untuk berjihad.

Foto-foto korban kerusuhan masuk ke email saya. Sungguh mengerikan dan menjijikkan, membuat kebencian saya kepada orang Kristen makin memuncak.

Sampai suatu siang, ada email masuk, berisi foto-foto korban. Saya sebelumnya sudah melihat foto-foto itu. Tapi ini berbeda. Sebelumnya foto-foto itu diberi keterangan bahwa itu adalah korban di pihak muslim, korban kebiadaban pihak Kristen.

Tapi ini, foto yang sama, keterangannya adalah ini korban di pihak Kristen, korban kebiadaban pihak muslim.

Lalu saya terduduk lesu. Bagaimana bila pihak Kristen sana memandang kami orang muslim sama seperti saya memandang mereka selama ini? Bagaimana bila kerusuhan ini hanyalah kebodohan karena cara pandang itu? Bagaimana bila cara pandang itu kita hilangkan begitu saja? Tentu mayat-mayat yang mengerikan ini tak perlu ada, bukan?

Saya kemudian menangis sejadi-jadinya.

Selama ini saya hanya melihat apa yang ingin saya lihat. Saya kumpulkan fakta-fakta dalam memori saya, yang mendukung kesimpulan bahwa orang-orang Kristen itu memusuhi Islam.

Ada banyak fakta yang tidak mendukung, tapi saya abaikan. Misalnya, keluarga kami biasa dirawat di rumah sakit Katholik di Pontianak, dan kami tidak pernah diajak pindah agama.

Sepupu saya sekolah di sekolah Katholik, tanpa biaya. Dia juga tidak pernah diajak pindah agama.

Fakta itu saya abaikan. Saya lebih percaya pada cerita-cerita bahwa rumah sakit dan sekolah adalah sarana untuk memurtadkan orang Islam, meski saya tak mengalaminya sendiri.

Saat itu saya bongkar seluruh memori saya, saya ubah pikiran saya. Saya baca kisah-kisah damai di Ambon yang sudah berlangsung ratusan tahun. Saya ingat teman-teman Kristen saya, mereka baik-baik belaka.

Saya kemudian membaca ulang sejarah hubungan Islam-Kristen. Bukankah Perang Salib itu adalah perang karena persaingan antara Arab dan Eropa? Bukankah penjajahan Nusantara itu adalah soal keinginan orang Eropa untuk menguasai sumber daya alam?

Dunia tiba-tiba menjadi terlihat berbeda.

Ambon yang saya tangisi adalah Ambon yang basah oleh tumpahnya darah anak-anak bangsa secara sia-sia. Bukan lagi Ambon yang tanahnya basah okeh tumpahnya darah kaum muslim akibat kezaliman Kristen.

Pertumpahan darah itu bisa kita hentikan hanya dengan cara sederhana, yaitu berhenti memandang pihak lain sebagai musuh.

Cara itu berlaku untuk semua tempat. Sampit, Poso, Sambas, Tolikara, Aceh Singkil, dan Tanjung Balai.

Saya akan berziarah ke Ambon, mengenang saudara-saudara kita yang sudah mendahului. Saya datang untuk bersyukur, bahwa saya punya kesempatan untuk mengubah cara berpikir saya.

Semoga ada lebih banyak orang lain seperti saya, berhenti memusuhi.



Rabu, 27 Juli 2016

JALAN MAKRIFAT DAN MANUNGGALING KAWULO GUSTI

JALAN MAKRIFAT DAN MANUNGGALING KAWULO GUSTI
(Dialog Syech Siti Jenar dengan Kebo Kenongo - Dalam Sebuah Novel)
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh31aC8n5SpoT5Ly-z_Zng40nYNiIEnC50Nby1kRJPT6g3C28d7LSE_VEpj5Ovd3YDRSyCjIm8RVA58l_T7RRaf5nD8bj8HAcJHpSBJKK-BY84NQrsdBeOZnS-r5Lo2Qlt5fMmTHv2F0d4/s1600/IMG-20151217-WA0021.jpg
"Syekh, saya telah mencoba untuk menuju 'manunggaling kawula gusti'."
Kebo Kenongo menghampar serban di depannya. Lalu berdiri.

"Andika sekarang akan shalat?" SyekhSiti Jenar duduk bersila di sampingnya. "Bukankah andika telah mencobamenuju maunggaling kawula gusti?"
"Benar, namun saya belum sampai. Sekarang saya akan shalat." terang Kebo Kenongo.

"Tujuan andika shalat?" Syekh Siti Jenar tersenyum. "Bukankah shalat jalan kita untuk
menuju manunggaling kawula gusti,Syekh?" Kebo Kenongo mengerutkan dahinya.
"Bukan." ujarnya pendek. Syekh Siti Jenar memutar tasbih seraya mulutnya komat-kamit berdzikir.

"Apakah harus berdzikir menuju manunggaling kawula gusti, Syekh?" tanyanya kemudian.
"Tidak juga." jawab Syekh Siti Jenar pendek.

"Lantas, untuk apa shalat dan berdzikir?" kerutnya. "Bukankah Syekh pernah mengatakan kalau semua itu upaya untuk mendekatkan diridengan Allah?"

"Jika itu jawaban Ki Ageng Pengging benar adanya." Syekh Siti Jenar sejenak memejamkan mata, kemudian membukanya lagi dan menatap Kebo Kenongo yang masih berdiri hendak shalat.

"Bukankah mendekatkan diri kepada Allah sama saja dengan menuju manunggaling kawula gusti?" tanyaKebo Kenongo selanjutnya.
"Tidak juga, Ki Ageng." ujar Syekh Siti Jenar.
"Lantas?"

"Manunggaling kawula gusti sangat berbeda dengan mendekatkan diri kepada Allah." terang Syekh Siti Jenar.
"Perbedaannya?" keningnya semakin berkerut .

"Karena yang namanya dekat berbeda dengan manunggal. Manunggal bukanlah dekat. Dekat bukanlah manunggal."

Syekh Siti Jenar berhenti sejenak. "Namun sekarang sebaiknya Ki Ageng Pengging shalatlah dulu, berceritalah setelah selesai mendirikan nya." tambahnya.
"Baiklah, Syekh."

Keadaan di padepokan Syekh Siti Jenar sore itu terasa segar. Panas matahari tidak menyengat seiring dengan bayang-bayang manusia yang kian meninggi.

Udara pegunungan terasa sejuk, pepohonan dan tumbuhan berdaun lebat menambah suasana asri.
Padepokan yang ditata sedemikian rupa menambah khusuk para pencari ilmu.

"Syekh…" Kebo Kenongo mendekat, "Shalat saya sudah selesai."
"Baiklah," Syekh Siti Jenar bangkit dari duduknya, "Apa yang andika rasakan saat shalat?"
"Tidak ada."

"Tidakah merasakan sejuknya udara pegunungan? Tidakah andika melihat kain serban yang terhampar di tempat sujud?" lanjut Syekh Siti Jenar.
"Tidak," jawab Kebo Kenongo.

"Tidakah andika mendekati Allah?" tanyanya kemudian.
"Saya tidak merasakannya. Tidak pula menjumpainya." ujar Kebo Kenongo.
"Mungkin shalat saya terlalu khusuk."

Syekh Siti Jenar menengadah ke langit,lalu duduk bersila di atas rumput hijau yang dihampari tikar pandan. Gerak-geriknya tidak luput dari pandangan Kebo Kenongo.

"Lihatlah!" kedua tanganya ditumpuk di bawah dada. Tiba-tiba tubuhnya mengangkat dari tikar yang didudukinya dengan jarak satu jengkal, dua jengkal, satu hasta, dua depa.

"Apa yang terjadi, Syekh?" Kebo Kenongo garuk-garuk kepala, keningnya berkerut-kerut.
"Ini hanyalah bagian terkecil akibat dari pendekatan dengan Allah…"
dalam keadaan melayang, matanya menatap tajam ke arah Kebo Kenongo.

"Hasil pendekatan? Jadi bukan manunggaling kawula gusti?" dengan menahan kedip Kebo Kenongo bertanya.

"Saya belum menerangkan tentang manunggaling kawula gusti. Namun kita tadi berbicara tentang upaya pendekatan…" terang Syekh Siti Jenar,perlahan menurukan kaki satu persatu hingga akhirnya kembali menyentuh tanah.

"Dengan jalan shalatkah?" tanya Kebo Kenongo. "Bukankah saya tadi waktu shalat tidak menemukan apa pun,bahkan tidak bisa melakukan seperti yang Syekh perlihatkan."

"Jangan salah ini bukan shalat! Namun shalat adalah salah satu upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Shalat tadi merupakan syari'at bagi pemeluk Islam, juga ibadah bagi hamba atau abdi Allah. Maka hukumnya wajib." urai Syekh Siti Jenar,

"Namun ketikaorang belum lagi menemukan hakikat dari shalat, itulah seperti yang Ki Ageng Pengging rasakan."
"Hampa." desis Kebo Kenongo, seraya menatap Syekh Siti Jenar dengan penuh kekaguman.

"Kebanyakan orang adalah seperti itu,Ki Ageng Pengging." Syekh Siti Jenar melangkah pelan .

Jika demikian saya baru berada pada tahapan syari'at. Bisakah sayamenemukan hakikat yang dimaksudoleh Syekh Siti Jenar?" Kebo Kenongoseakan-akan kehilangan gairah.

"Hakikat menuju pada pendekatan sebelum manunggaling kawula gusti,
maka seperti yang pernah saya jelaskan pada Ki Ageng. Kita meski berbeda agama namun bukanlah andika harus memaksakan syari'at ajaran yang saya miliki untuk Ki Ageng kerjakan.

Karena kebiasaan andika adalah bersemadi. Bukankah dengancara itu andika merasakan hal yang
berbeda, terutama dalam upaya pendekatan." Syekh Siti Jenar kembali mengurainya.

Benar, Syekh." sejenak Kebo Kenongo merenung. "Syekh, ternyata saya lebih bisa
merasakan mendekati Sang Pencipta dengan cara bersemadi." Kebo Kenongo melangkah pelan di samping Syekh Siti Jenar.

"Karena Ki Ageng Pengging sudah terbiasa dengan cara itu." ujar SyekhSiti Jenar pandangannya tertunduk keujung kaki.

"Benar, seperti Syekh sampaikan. Cara pendekatan dan kebiasaan ternyatatidak mudah untuk dirubah. Namun ketika kita menggunakan jalan yang berbeda ternyata memiliki tujuan sama." Kebo Kenongo menghela napas dalam-dalam.

"Kenapa? Ya, karena itulah yang disebut manunggal. Satu." terang Syekh Siti Jenar, menghentikan
langkahnya seraya matanya menatap puncak gunung yang berkabut.

"Benar, Syekh. Orang melakukan tata cara dan ritual dalam wujud pisik yangberbeda namun tujuannya tetap satu. Sang Pencipta." tambah Kebo Kenongo.

"Satu harapan untuk mendapatkannya. Mendekatkannya, meraihnya,dan manunggal." terang Syekh SitiJenar. "Namun belum manunggaling kawula gusti, yang akhirnya wahdatul wujud." "Lantas?"

"Mereka mendekatkan diri kepadaNya bukan untuk tujuan manunggal, tetapi untuk mengajukan berbagai macam permohonan dan keinginan. Karena mereka lebih mencintai urusan lahiryah yang cenderung duniawi ketimbang urusan alam kembali, akhirat." Syekh Siti Jenar melirik ke
arah Kebo Kenongo.

"Bukankah ada juga orang yang tidak terlalu tertarik pada urusan lahiryah saja? Namun mereka menginginkan kesempurnaan hidup dan masuk dalam tahap akrab dengan Sang Pencipta?" kerut Kebo Kenongo, tatapannya mendarat pada wajah Syekh Siti Jenar yang bercahaya.

"Itulah yang jumlahnya sangat sedikit, Ki Ageng Pengging." lalu Syekh Siti Jenar memberi isyarat dengan jari jemari tangannya.

"Kecenderungan orang melakukan pendekatan pada Allah karena mengharapkan sesuatu, atau orang tadi dalam keadaan susah. Ketika mereka merasa senang dan bahagia, lupalah kepadaNya."

"Mengapa, Syekh?"

"Karena tujuan pendekatan mereka untuk meraih dan memohon kebaikan lahiryah saja." terang Syekh Siti Jenar.

"Ketika merasa sudah terkabul keinginannya, kemudian melupakan Allah.

" Bukankah tidak semua orang seperti itu, Syekh?" tanya Kebo Kenongo.

"Tidak, hanya hitungannya lebih banyak." Syekh Siti Jenar melipat jari jemarinya.

"Sangat sedikit orang yang punya kecenderungan untuk mengikat keakraban dengan Sang Pencipta. Padahal tahap terkabulnya permohonan mereka bukan karena akrab, tapi dalam Supaya mendekat dan kemahamurahanNya saja. Jika seandainya mereka sudah merasa akrab dan berada dalam keakraban tidak mungkin melepas ikatannya semudah itu." urainya.

"Jika sudah akrab saya kira tidak mungkin orang untuk menjauh. Karena untuk mengakrabi perlu upaya mendekatan yang memerlukan waktu tidak sebentar."

Kebo Kenongo mengangguk-anggukan kepala.

"Ya, maka tahap akrab dengan Allah itulah ketika orang dalam keadaan ma'rifat. Ketika kita tidak memiliki lagi garis pemisah untuk saling bertemu. Kapan pun, dimanapun, tidak ada lagi sekat-sekat dan ruang kosong sebagai jeda untuk mengakrabinya." Syekh Siti
Jenar menghela napas dalam-dalam.

"Ya, ya, benar, Syekh." Kebo Kenongo berkali-kali mengangguk-anggukan kepalanya.

"Nah, pada tahap akrab itulah kita meminta apa pun tidak mungkin tertolak. Mana ada keakraban tanpa adanya keterikatan kasih sayang?" Syekh Siti Jenar perlahan melangkah lagi.

"Tentu, Syekh. Saya sangat paham." Kebo Kenongo terkagum-kagum dengan uraian Syekh Siti Jenar.

"Keakraban dengan Allah tidak mudah. Namun ketika kita sudah berada dalam lingkarnya tidak mudah pula untuk melepas." Syekh Siti Jenar berdiri mematung di bawah pohon kenanga.

"Benar, meski saya pun dengan susah payah mendekat untuk meangkrabiNya belum juga sampai. Karena upaya saya bukan hanya untuk mendekat dan mengajukan berbagai permohonan. Namun ingin mengakrabinya." ujar Kebo Kenongo.

"Jika dalam keadaan sangat akrab bukankah tidak memohon pun akan diberinya?"

"Ya," ujar Syekh Siti Jenar. "Berjuanglah dan bergeraklah ke arah sana. Jika sudah tercapai, keinginan lahiryah pun secara perlahan tidak lagi menjadi persoalan yang sangat istimewa. Itu
semua dirasakan hanyalah sebagai pelengkap lahiryah saja. Sebagai syarat hidup."

"Benar, Syekh." Kebo Kenongo kembali mengiringi langkah Syekh Siti Jenar.

"Padahal tidak hanya Raden Patah yang memiliki darah biru dan sekarang menjadi Penguasa Demak Bintoro.

Saya pun masih keturunan Majapahit. Namun saya tidak punya hasrat sedikit
pun untuk menjadi penguasa. Tujuan saya bukan itu, tetapi seperti Syekh terangkan tadi."

"Keinginan lahiryah itulah yang memenjarakan kita menuju ma'rifat.
Ruang kosong, antara, jarak, jeda, pemisah, yang merintangi keakraban
kita dengan Sang Pencipta." terang Syekh Siti Jenar.

"Perintang tadi berupa semua keinginan lahiryah yang distimewakan oleh nafsu keduniawian,
karena ingin berkuasa, ingin kekayaan, dan banyak keinginan. Itu semua yang dinomor satukan. Lahirnya keserakahan."

"Jika itu yang masuk ke dalam jiwa dan pikiran, hati ini akan terasa gelap." ujarKebo Kenongo.

"Mana mungkin menuju akrab untuk mendekat pun kita harus mencari cahaya jika tidak
tentu membabi buta."

"Nah, itulah penggoda manusia untuk meraih keakraban dengan Allah.

Jernihkan hati, tenangkan jiwa, damaikan gejolak nafsu, merupakan upaya untuk membuka jalan
keakraban." tambah Syekh Siti Jenar.

"Manusia terkadang sangat sulit menyusuri jalan yang penuh dengan godaan tadi. Karena dalam dirinya memiliki nafsu yang sangat sulit untuk dikendalikan. Itulah upaya perjuangan menuju keridloannya. Menuju akrab pada Allah. Terkadang manusia hanya sebatas berucap dibibir, bahwa dirinya telah akrab tetapi dalam kenyataannya tidak. Lalu mengakui bahwa saya telah ma'rifat.
Sebenarnya ma'rifat bukan sebuah pengakuan, tetapi realitas dalam tahapan akrab. Terbelengulah
dengan ikatan kata-kata."

"Ya." Kebo Kenongo menghentikan langkahnya seiring dengan Syekh Siti Jenar.

"Adakah perbedaan antara ma'rifat dengan akrab? Atau memang sama ma'rifat adalah akrab, sedangkan akrab adalah ma'rifat?" tanyanya kemudian.

"Orang yang sudah ma'rifat tentu akrab. Orang yang sudah akrab tentusudah ma'rifat." terang Syekh SitiJenar, jubahnya yang berwarna hitamberlapis kain merah tersibak angin pegunungan.

"Ma'rifat itu sendiri?" kerut KeboKenongo.

"Tahu, Mengetahui." berhenti sejenak."Namun tidak cukup itu, tentu saja harus diurai dengan maksud dan makna yang terarah.

Mengetahui tentang apa? Tahu tentang apa?
Tentu saja tentang dirinya dan Tuhannya. Bukankah terkait dengan makna akrab. Sehingga ada istilah kalau ingin mengenal Gustimu, Allahmu, maka harus mengenal dirimu sendiri." Lanjut Syekh Siti Jenar.

"Saya pernah mendengar, Syekh." Kebo Kenongo merenung.

"Bukankah Tuhan itu lebih dekat dari pada urat leher dan lehernya, bola mata putih
dengan hitamnya?"

"Tentu," Syekh Siti Jenar melirik kesamping.
"Namun itu sifatnya umum.Tidak masuk ke dalam makna akrab.Bahkan ma'rifat juga mungkin tidak."

"Bukankah untuk menuju ma'rifatpun tidak mudah, Syekh?
Tetapi ada tahapannya, yaitu Syariat, hakikat, tharikat, dan akhirnya ma'rifat." ujar
Kebo Kenongo.

"Harusnya demikian." Syekh Siti Jenar memutar lehernya seiring dengan tatapan matanya, tertuju ke puncak pegunungan.

"Bukan berarti orang harus memahami tahapan tadi. Karena tanpa memahami tahapan tadi pun
orang bisa berada dalam tingkat ma'rifat, disadari atau diluar  kesadarannya. Sebab tidak semua orang wajib tahu tetang sebuah istilah, yang penting adalah sebuah pencapaian, lantas bisa merasakannya."

"Bukankah istilah tadi hanya ada dalam agama Islam yang dianut Syekh sendiri." tambah Kebo Kenongo.

"Sedangkan dalam agama yang saya pahami tentu saja punya nama yang berbeda."

"Benar," timpal Syekh Siti Jenar.
"Namun tetap maksudnya sama. Hanya sebutannya saja yang berbeda. Sehingga saya tadi mengurai seperti itu."

"Ya." Kebo Kenongo menganggukan kepala.
"Lantas ketika Syekh melayang apa yang terjadi?" tanya Kebo Kenongo.

"Saya bisa melayang karena bisa mengatur berat tubuh." Syekh Siti Jenar menatap langit,
"Lihatlah di sana, Ki Ageng! Mengapa burung itu bisa beterbangan, lalu saling kejar diketinggian yang tidak bisa kita jangkau karena keterbatasan."

"Tapi kenapa syekh sendiri bisa meloncati keterbatasan tadi?"

"Sebenarnya bukan saya bisa meloncati keterbatasan, namun kita bisa mengatur batas, menjauh dan mendekatkan." terang Syekh Siti Jenar.

"Maksud Syekh?" kerut Kebo Kenongo.
"Samakah dengan yang saya dengar tentang Isra Mi'rajnya Nabi Muhammad?"

"Ya, namun berbeda."

"Maksudnya?"

"Jika Rasulallah Isra Mi'raj dengan kehendak dan kekuasaan Allah. Sedangkan saya tidak." ujar Syekh Siti Jenar.

"Saya kurang paham, Syekh?" Kebo Kenongo memijit keningnya.

"Ya, saya tidak bisa seperti Rasulallah. Sebab saya bukan beliau…" terang Syekh Siti Jenar.

"Namun saya bisa menyatu dengan kekuatannya dan dzatNya. Hingga ketika saya menghendaki berada di pusat Negeri Demak dengan sekejap itu bukan persoalan yang mustahil." tambahnya.

"Benarkah itu, Syekh?" Kebo Kenongo semakin mengkerutkan dahinya.

"Jika Ki Ageng Pengging ingin bukti, maka tataplah saya! Jangan pula Ki Ageng berkedip! Karena kepergian saya ke pusat kota Demak Bintoro bagaikan kedip, kembali pun dihadapan Ki Ageng seperti itu pula. Saya dari pusat Kota Demak Bintoro akan membawa makanan segar."

Usai berkata-kata, samarlah wujud Syekh Siti Jenar, hingga akhirnya lenyap dari pandangan Kebo Kenongo.

"Lha," Kebo Kenongo menggosok- gosok kedua matanya.
"Benarkah yang sedang terjadi dan kuperhatikan ini?"

"Inilah makan segar dari pusat kota Demak Bintoro, Ki Ageng."

"Lha, aih..aih..!" Kebo Kenongo terperanjat, ketika dihadapannya Syekh Siti Jenar sudah berdiri kembali seraya menyodorkan makanan hangat dengan bungkus daun pisang.

"Itulah yang bisa saya lakukan, Ki Ageng." ujar Syekh Siti Jenar, seraya duduk bersila di atas hamparan tikar pandan, dihadapannya terhidang dua bungkus makanan hangat yang
beralaskan daun pisang.

"Sekarang marilah kita makan ala kadarnya."

"Ya," Kebo Kenongo hanya menjawab dengan anggukan.
"Saya tidak sanggup untuk memikirkannya, Syekh? Kenapa andika hanya dalam
kedip pergi ke pusat kota Demak Bintoro untuk mendapatkan hidangan makan pagi. Padahal jika kita bejalan dari padepokan ini ke pusat kota Demak memakan waktu satu hari satu malam?"

"Benar, Ki Ageng Pengging." Syekh Siti Jenar mengangguk.
"Namun bukankah kita tidak sedang berbicara tentang perjalanan jasad?"

"Maksud, Syekh?"

"Ingatkah Ki Ageng Pengging ketika saya pernah bercerita tentang Kanjeng Nabi Sulaiman AS.?" ujar Syekh Siti Jenar.

"Yang pernah Syekh baca dari ayat suci alquran itu? Saya agak lupa." Kebo Kenongo menempelkan telunjuk didahinya.

"Ketika Kanjeng Nabi Sulaiman meminta kepada para pengagung negaranya untuk memindahkan kursiRatu Balqis ke istananya. Siapakah yang bisa memindahkan singgasana Ratu Balqis dalam waktu yang sangat cepat, hingga jin Iprit menyanggupi."

"Ya, saya ingat, Syekh." Kebo Kenongo tersenyum.
"Namun bukankah Jin Iprit itu terlalu lama menurut Kanjeng Nabi Sulaiman, karena dia meminta waktu saat Baginda Nabi bangkit dari tempat duduk maka singgasana akan pindah…"

"Benar, waktu seperti itu lama menurut Kanjeng Nabi Sulaiman. Karena bangkit dari duduk
memerlukan waktu beberapa saat. Hingga berkatalah seorang ulama serta mengungkapkan kesanggupa nnya, yaitu hanya sekejap. Kanjeng Nabi Sulaiman berkedip maka Singgasana Ratu Balqis pun akan berhasil dia bawa. Hanya satu kedipan." terang Syekh Siti Jenar. "… dan terbuktilah kehebatan ulama tadi."

"Ya, benar, Syekh." ujar Kebo Kenongo,
"Itulah ilmu Allah. Mana mungkin bisa dicerna dan dipahami dengan keterbatasan berpikir
manusia."

"Tidak semua manusia seperti itu, Ki  Ageng." terang Syekh Siti Jenar.

"Itulah manusia kebanyakan, terkadang perkataannya dan pendalamannya dibidang ilmu
dangkal. Namun meski pun memiliki kedangkalan berpikir terkadang dalam dirinya mencuat pula rasa angkuh dan sombongnya. Jika hal itu terjadi maka akan gelap untuk meraba dan meraih
yang saya maksud."

Benar, Syekh. Hanya kejernihan berpikir dan menerima yang bisa membukakan kebodohan dan
kekurangan diri kita…" timpal Kebo Kenongo.
"Namun dalam uraian tadi apa yang membedakan kehebatan ilmu yang dimiliki oleh Jin Iprit dan Ulama?"

"Tentu saja sangat berbeda." Syekh Siti Jenar bangkit dari duduknya, seraya menatap langit.
"Jin itu makhluk gaib, tidak aneh bagi bangsa mereka terbang, melayang-layang di angkasa, melesat secepat angin, menembus lubang sekecil lubang jarum, bahkan merubah wujud berbentuk apa pun yang dikehendakinya."

"Bisa pula tidak terlihat oleh manusia?"

"Sangat bisa. Ya, karena memiliki sifat ghaib itulah. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa menembus alam jin. Sebaliknya hanya jin tertentulah yang bisa menampakan diri pada manusia." terang Syekh Siti Jenar.

"Sehebat apa pun bangsa jin tentunya tidak bisa melebihi manusia."

"Bukankah pada zaman ini banyak pula orang-orang yang memiliki ilmu jin bahkan mengabdikan diri, karena ingin mendapat kesaktiannya." timpal Kebo Kenongo.
"Para dukun sakti saya rasa tidak terlepas dari kekuatan dan kesaktian atas bantuan bangsa jin
yang dijadikan tuannya."

"Itulah kedangkalan berpikir manusia, Ki Ageng. Mereka tidak melihat asal usul, jika manusia itu makhluk yang paling mulia di banding yang lainnya.Termasuk jin."

"Jika demikian, Syekh. Berarti kita harus menaklukan jin agar bisa memerintah mereka dan memanfaatkan kekuatannya. Namun apa mungkin kita bisa menaklukan jin?"

"Kenapa tidak mungkin. Bukankah Kanjeng Nabi Sulaiman sendiri prajuritnya terdiri dari bangsa jin,
selain binatang dan manusia?"

"Tapi untuk menaklukan bangsa jin tentu saja ilmu kita harus di atas mereka, Syekh?"

"Tentu saja, Ki Ageng." ujar Syekh Siti Jenar. "Namun jika kita sudah memiliki ilmu dan kesaktian sebetulnya menjadi tidak perlu memiliki dan menaklukan jin. Karena kita bukan raja seperti
Kanjeng Nabi Sulaiman, yang memerlukan prajurit dan abdi setia. Untuk dijadikan balatentara dan
membangun negara, dengan arsitek-arsitek yang kokoh. Jin dijaman nabi Sulaiman di suruh menyelami laut untuk mengambil mutiara, di suruh membangun keraton berlantaikan kaca yang membatasi kolam dibawahnya."

"Meski bukan raja kita juga butuh prajurit pengawal, Syekh?"

"Saya rasa tidak perlu bangsa jin yang dijadikan prajurit pengawal. Bukankah Kanjeng Nabi Muhammad juga tidak dikawal oleh bangsa jin, namun selalu disertai oleh Malaikat Jibril kemana
pun beliau pergi."

"Lalu haruskah Kanjeng Nabi menundukan Malaikat agar mengawalnya? Sakti mana dengan
jinnya Kanjeng Nabi Sulaiman?"

"Tentu saja Malaikat itu lebih sakti dari bangsa jin. Karena yang mencabut nyawa jin juga Malaikat seperti halnya nyawa manusia. Kanjeng Nabi Muhammad pun tidak perlu menundukan Malaikat, karena dengan sendirinya Malaikat akan diutus oleh Allah untuk menyertai orang-orang shalih. Apalagi Malaikat Jibril sebagai pembawa wahyu Allah yang disampaikan kepada Kanjeng Nabi
Muhammad." urai Syekh Siti Jenar.

"Syekh sendiri siapa yang mengawal?"

"Karena saya manusia biasa, bukan nabi dan juga keshalihannya tidak saya ketahui, entahlah. Mungkinkah Allah mengutus Malaikat untuk mengawal atau tidak saya tidak tahu. Yang jelas
saya tidak dikawal oleh bangsa jin…"
Syekh Siti Jenar kembali duduk bersila.

"Tapi kenapa Syekh memiliki kesaktian?"

"Ya, itu sedikit ilmu yang saya pelajari dari keMaha Besaran Allah. Mungkin yang mengawal saya kemana pun pergi adalah ilmu yang saya miliki. Sehingga dengan ilmu itu saya pun bisa memanggil prajurit Allah yang empat." tambah Syekh Siti Jenar.

"Prajurit Allah?" kerut Kebo Kenongo.
"Apakah para Malaikat? Kalau di dalam agama saya para Dewa dan Hyang Jagatnata, penguasa triloka."

"Prajurit Allah bukan Malaikat. Saya tidak akan berbicara tentang para Dewa." berhenti sejenak, lalu tatapan matanya menyapu wajah Kebo Kenongo.
"Namun yang akan saya bicarakan prajurit Allah. Ingat bukan Malaikat,"

"Kenapa bukan Malaikat? Bukankah Malaikat bisa mencabut nyawa manusia dan bangsa jin yang goib?"tanya Kebo Kenongo.

"Meskipun demikian Malaikat hanyalah makhluk Allah, tidak beda dengan kita.Hanya yang membedakan kita dengan Malaikat, dia adalah goib. Malaikat memiliki keimanan tetap dan tidak
pernah berubah, berbeda dengan bangsa manusia dan jin. Namun meski bagaimana pun tetap saja manusia makhluk yang paling mulia, tetapi sebaliknya derajat kemulian yang diberikan Allah kepada manusia akan lenyap. Bahkan manusia akan didapati sebagai makhluk yang lebih rendah dan hina dibawah binatang." urai Syekh Siti Jenar.

"Lalu prajurit yang dimaksud?"

"Yang dimaksud prajurit tentu saja penyerang, penghancur, perusak, dengan segala tugas yang diembannya."

"Mungkinkah mirip dengan Dewa Syiwa?"

"Mungkin, Ki Ageng." Syekh Siti Jenar berhenti sejenak. "Sedangkan prajurit Allah yang empat disini pun fungsi dan tugasnya untuk menghancurkan, merusak, dengan tujuan manusia berbalik pada jalan lurus. Mengingatkan kekeliruan yang pernah diperbuat oleh para khalifah bumi. Tujuannya
tentu saja menyadarkan, jika yang mendapatkan taufiq dan hidayah. Adzab dan siksa bagi mereka yang tidak pernah mau bertobat dan kembali kepada jalan yang lurus."

"Lalu siapa yang dimaksud dengan prajurit Allah yang empat tadi, Syekh?"

"Prajurit Allah yang empat itu diantaranya…" Syekh Siti Jenar melangkahkan kakinya perlahan. "…
pertama adalah angin. Lihatlah angin yang lembut dan sepoi-sepoi, namun perhatikan pula jika angin itu mulai dahsyat serta bisa memporak-porandakan bangunan sehebat apapun, menghancurkan pohon-pohon yang tertancap kokoh, menerbangkan segala hal yang mesti diterbangkannya, bahkan menghancurkan sebuah kota atau perkampungan. Lantas ketika angin mengamuk siapa yang bisa membendung dan menghalang-halangi?"

"Tidak ada, Syekh."

"Itulah kehebatan prajurit Allah yang disebut manusia angin pada syariatnya. Padahal angin itu hakikatnnya membawa pesan pada manusia, pada para khalifah bumi, agar menyadari
kekeliruan yang pernah diperbuatnnya. Manusia yang melakukan kerusakan di muka bumi maka akan kembali pada perbuatannya, akibatnya. Namun dalam hal ini manusia hanya memandang sebelah mata pada hakikat angin. Mereka lebih banyak bercerita dan memandang akan hal yang berbau logika dan penalaran semata, karena itu semua akibat dari keterbatasan ilmu yang
dimilikinya. Ilmu yang manusia miliki tidak mencakup berbagai hal, namun terbatas hanya pada bidangnya saja. Sehingga manusia terkadang melupakan Allah yang memiliki lautan ilmu." urai Syekh Siti Jenar, seraya langkahnya terhenti. Sejenak berdiri di tepi jalan, matanya menyapu
tingginya puncak gunung yang diselimuti awan putih yang berlapis-lapis.

"Bukankah manusia akan selalu merasa pintar jika seandainya berhasilmenangani sedikit persoalan saja, Syekh?"

"Itulah manusia. Namun tidak semuanya seperti itu. Tetapi itulah watak orang kebanyakan. Maka jika demikian tertutuplah pintu ilmu berikutnya, terhalang oleh keangkuhan dan kecongkakan yang terselip dalam batinnya." ujar Syekh Siti Jenar.

"Berbeda jika dibandingkan dengan manusia yang batinnya terang. Dia tidak akan pernah berbuat
congkak, apalagi sombong, yang bisa membutakan mata hatinya. Sehingga orang seperti itu akan selamanya sanggup memahami segala hal dengan jernih…."

"…sangat sulit, Syekh." Kebo Kenongo menarik napas dalam-dalam. "…pantas saja diri Syekh bisa terangkat pada derajat ma'rifat, karena telah sanggup membersihkan batin dari noda-noda tadi. Mungkin saya sulit mencapai ma'rifat tadi karena batin ini masih dijejali dan dikotori hal-hal yang
membutakan, menghalangi, mengganggu dan merintangi. Pada intinya masih berbau keangkuhan,
kesombongan, angkara, rasa iri dan dengki. Namun rasanya sulit untuk melepaskan hal-hal tadi, Syekh.

Mungkin karena kesulitan itu datang akibat kita berada dalam hiruk pikuk kemewahan duniawi, yang selalu hadirdi sisi kiri, kanan, depan, dan belakang kita?"

"…jangan salah, Ki Ageng. Bukankah setiap manusia hidup memerlukan kebutuhan jasadiyah?" timpal Syekh Siti Jenar.

"Duniawi adalah kebutuhan lahiryah, sedangkan menuju ma'rifat adalah proses perjalanan batin menuju akrab."

"Benar, Syehk. Namun jika gangguan duniawi sangat terlalu kuat, bisa menggelapkan mata batin. Sehingga kita selalu memperjuangkan kepentingan jasadiyah tanpa kendali dan melupakan kebutuhan batinnya. Nah, untuk menyeimbangkan itulah yang sangat sulit."

"Sebetulnya kita tidak perlu seimbang dulu. Namun itu terlalu berat untuk kebanyakan orang dan tidak mungkin dapat tercapai. Sebab bagi yang telah ma'rifat dan akrab tidak perlu jauh melangkah tinggal mengatakannya, apa yang diinginkan akan datang atau berada dalam genggaman." terang
Syekh Siti Jenar, lantas membuka telapak tangannya dan diacungkan ke langit, lalu dikepalkan.

"…lihatlah! Inikah yang Ki Ageng inginkan?"

"Syekh, rasanya sangat berat untuk menempuh jalan ma'rifat." Kebo Kenongo nampak tidak ceria.

"Ya, tentu saja."

"Mungkinkah saya harus bertahap? Menurut tahapan ilmu, Syekh?"

"Tidak selalu, Ki Ageng Pengging." Syekh Siti Jenar perlahan bangkit dari duduknya. "Bukankah saya menyarankan jika seandainya andika kesulitan mengikuti ilmu Islam, hendaknya ikutilah ajaran agama yang andika anut. Bukankah andika tinggal satu atau dua langkah lagi menuju
ma'rifat, setelah itu akrab. Orang yang akrab dengan Allah itulah seperti yang pernah saya uraikan sebelumnya."

"Ya," Kebo Kenongo menggeleng,
"Itu dibicarakan sangatlah mudah, Syekh. Namun untuk melaksanakannya terasa berat, dan sulit untuk membuka tabirnya. Jika sekali saja tabir itu sudah terbuka tentulah berikutnya akan lebih mudah."

"Benar," Syekh Siti Jenar terdiam sejenak, matanya yang sejuk dan tajam beradu tatap dengan Kebo Kenongo. "Ya, hanya Sunan Kalijaga yang bisa…" gumamnya.

"Sunan Kalijaga?"

"Tidak perlu dipikirkan! Apalagi mempertanyakannya." Syekh Siti Jenar kembali ke tempat duduknya.

"Benar, Syekh. Andika selain bisa membaca keinginan batin saya juga dapat membuktikannya hanya dengan mengepalkan tangan." Kebo Kenongo menggeleng-gelengkan kepala, seraya memujinya